MAUMERE—Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mendorong koperasi-koperasi besar yang ada di Indonesia untuk berinvestasi di sektor produksi demi memperkuat prekonomian anggota dan masyarakat.
Teten mengatakan, koperasi harus melakukan Modernisasi di dalam pengelolahan, menejemen termasuk pelayanan serta harus masuk ke sektor produksi.
“Kami teleh menyiapkan regulasi-regulasi yang dibutuhkan oleh koperasi untuk masuk ke sektor produksi,” ujar Teten saat membuka RAT KSP Kopdit Pintu Air Tahun Buku 2020 di Aula Sumur Yakob Kantor Pusat Kopdit Pintu Air, Jumat (21/5/21) Desa Ladogahar, Dusun Rotat, Maumere Kabupaten Sikka, NTT.
Lanjutnya, saat ini, koperasi simpan pinjam harus melakukan inovasi diversifikasi jenis usaha. Untuk itu, spin-off masuk ke sektor produksi menjadi pilihan. Koperasi produksi dapat memenuhi kebutuhan anggota dengan membeli produk sendiri serta dapat menciptakan lapangan kerja.
Menkop mengapresisasi KSP Kopdit Pintu Air yang telah bergerak di bidang produksi dan telah melahirkan 8 Badan Usaha Berbadan Hukum PT.
Dari 8 PT sudah 7 yang masuk ke sektor produksi, hal tersebut bisa menjadi contoh untuk Koperasi-Koperasi besar yang ada di Indonesia agar segera masuk ke sektor produksi.
“Pintu Air masuk ke sektor produksi adalah hal yang sangat tepat. Saya mengajak agar teman-teman koperasi besar segera masuk ke sektor produksi,” tuturnya.
Sementara Ketua KSP Kopdit Pintu Air Yakobus Jano mengungkapkan, semua hasil kerja KSP Kopdit Pintu Air, dari simpan pinjam hingga bergerak di sektor produksi berkat partisipasi anggota koperasi Pintu Air.
“Tanpa dukungan dari anggota koperasi yang adalah pemilik lembaga ini kita tidak bisa buat apa-apa. Solidaritas adalah hal yang sangat penting, mari kita jaga solidaritas kita agar lembaga ini bisa hidup 1.000 tahun lagi,” pesan Jano dalam sambutannya.
Kunjungi Garam Pintar
Setelah membuka acara RAT KSP Kopdit Pintu Air Mentri Teten mengunjungi PT Garam Pintar Asia, salah satu sektor riil milik KSP Kopdit Pintu Air, untuk meninjau proses produksi di Rumah Produksi Garam yang berlokasi di Dusun Likong Gete, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Saat meninjau lokasi produsi garam, Teten mengungkapkan, proses produksi garam yang telah memenuhi standar SNI dan di bawah pengawasan BPOM serta dijamin halal ini bisa menjadi pemenuh kebutuhan garam di Kabupaten Sikka.
Menurut Teten yang diperlukan sekarang adalah tingkat perluasan lahan kerena kalau hanya ½ hektar masih kurang untuk bisa dipasarkan keluar Kabupaten Sikka.
“Kita membutuhkan suplai garam yang cukup besar baik utuk konsumsi dan untuk prouksi kerena itu daerah yang paling potensial penghasil garam adalah NTT,” ungkapnya
Ia menambahkan PT. Garam Pintar Asia bisa menjadi produser untuk kebutuhan garam di NTT bahkan Indonesia.
Menejer PT. Garam Pintar Asia Ignatius Fabianus Nong, biasa disapa Ifan Parera mengungkapkan pada tahap awal, pihaknya memproduksi sebanyak 4 ton garam dalam kemasan 300 dos.
Untuk harga yang dijual dalam kemasan 20 gram dengan harga Rp875 dan tersedia di Pintu Air Swalayan yang beralamat di Jl. Diponegoro depan SMA Budi Luhur, Kelurahan Kota Uneng kecamatan Alok Kabupaten Sikka sebagai agen tunggal.
Ifan menegaskan produk garamnya akan laris manis. Ini karena produknya berkualitas dan harga yang terjangkau. Selain itu, Kopdit Pintu Air juga dikenal sebagai koperasi dengan basis anggota yang loyal. Sehingga produk yang dihasilkan dari koperasi akan didukung oleh anggotanya.
“Sarana prasarana di rumah produksi garam ketika dinilai oleh BPOM kita mendapatkan predikat baik dengan nilai A. Ini membuktikan kondisi rumah produksi kita sudah memenuhi 109 kriteria,” ucapnya. (Nivan/Reza)








