INDRAMAYU—Kabupaten Indramayu merupakan salah satu daerah penghasil garam yang potensial. Pada 2019 lalu, produksi petani tambak garam mencapai 361.106,59 ton. Sayangnya petani garam di kabupaten ini menghadapi berbagai masalah, di antaranya harga garam yang anjlok dan tidak terserap oleh industri.
Sebetulnya dalam menghadapi masalah ini koperasi bisa berperan sebagai penyangga hasil produk garam rakyat. Hasil produksi garam petani bisa ditampung oleh koperasi dengan standar harga ekonomi yang layak. Kemudian koperasi membuat produksi garam olahan, baik untuk konsumsi maupun industri.
Seorang alumni Fakultas Ekonomi Tanjung Pura bernama Suriadi jatuh hati pada nasib petani garam ketika melakukan riset di Indramayu pada 2013. Di matanya petani garam di Indramayu masih konvensional berakibat kualitas produksinya buruk. Untuk itu dia memperkenalkan teknologi pada petani.
Selain mendirikan dua perusahaan, Suriadi mendorong pendirian Koperasi Banyu Surya Segara pada 2018. Koperasi ini bertujuan melakukan pembinaan terhadap petani garam agar kualitas garam petani meningkat dan dapat terserap oleh industri pengguna garam atau menjadikan petani garam naik kelas.
“Berawal dari ke anggotaan 20 orang sekarang meningkat menjadi ratusan petani yang terikut serta dalam pembinaan,” kata pria yang kerap kali disapa Adi ini kepada Peluang, Sabtu (6/2/21).
Adi bertindak sebagai pembina. Dia berharap dengan membangun koperasi petani dapat meningkatkan kualitas hasilnya dan menaikan harkat petani garam dengan cara pengolahan produksi yang baik.
Sebagai catatan pada 2019 Banyu Surya Segara mampu memproduksi 10 ribu ton per musim panen dalam periode setahun. Untuk mendukung koperasi ini perusahaan Adi di bidang logistik bertindak sebagai distributor.
“Ke depan koperasi akan membuat terobosan pabrik mini pengelolahan garam dan dapat menciptakan produk sendiri. Pasar permintaan kami dalam produksi bahan baku garam sudah mencapai seluruh Indonesia,” tutup dia (Van).








