SEKADAU—Koperasi Kredit CU Keling Kumang melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2020 di Desa Kapang Semada, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Sabtu (27/3/21). Hadir dalam perhelatan ini, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, yang membuka kegiatan ini.
Selain Menteri, hadir juga Deputi Bidang Perkoperasian Ahmad Zabadi, Gubernur yang diwakili Sekretaris Daerah Kalimantan Barat A.L Leysandri, Plh Bupati Kabupaten Sekadau Frans Zeno, serta jajaran pengurus dan pengawas CU Keling Kumang. .
Ketua Kopdit CU Keling Kumang Mikael dalam sambutannya menyampaikan, bahwa RAT dilaksanakan secara virtual di tujuh area, yang dihadiri total 578 orang yang mewakili 187 ribu anggota dari 66 cabang.
Dia mengungkapkan, koperasi yang telah berusia 28 tahun ini sudah menjadi grup, sejak lima tahun lalu yang terdiri dari koperasi simpan pinjam, konsumen, sektor riil, serta mempunyai perusahaan pengelolaan kakao, perbengkelan sepeda motor, perhotelan, pendidikan SMK hingga Institut Teknologi Keling Kumang. Total aset yang didapat mencapai Rp1,6 triliun.
“Hanya saja untuk sektor riil, kami menghadapi berbagai persoalan, seperti sertifikasi benih untuk bisa mendapatkan izin edar kakao dan pupuk. Mudah-mudahan pihak kementerian memberikan solusi,” kata Mikael.
Pak Ketua juga mengapresiasi upaya Kemenkop karena SHU tidak dikenakan pajak. Namun dia juga mengusulkan agar hanya simpanan anggota koperasi yang di atas Rp50 juta untuk dikenakan pajak.
Dalam kesempatan itu, Kopdit CU Keling Kumang merilis tiga produk, di antaranya produk ATM Setor Tarik.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam sambutannya menilai Kopdit CU Keling Kumang Keling Kumang bukan saja koperasi besar yang hadir di tengah masyarakat dan menjadi kebanggan nasional.
“Kopdit CU Keling Kumang tumbuh menjadi koperasi modern, go digital, dari segi bisnis jadi role model. Mulai dari perhotelan, perkebunan, jasa, pendidikan dan boleh dibilang koperasi multi pihak, ini luar biasa,” ungkap Teten.
Menteri berharap Kopdit CU Keling Kumang ikut mendorong UKM kecil naik kelas. Ditambahkan, semakin banyak UKM naik kelas, maka tenaga kerja yang terserap juga besar. Saat ini, catatnya, rasio kewirausahaan wirausaha Indonesia baru mecapai 3,47% padahal minimum 4%, sementara negara tetangga seperti Thailand 4,5% dan Singapura 8,5% (Reza).








