
PeluangNews, Jakarta-Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat langkah konkret untuk mendorong produk kuliner lokal menembus pasar global. Upaya ini kembali membuahkan hasil melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) ekspor kecap antara produsen Indonesia PT Unilever Indonesia Tbk dengan merek Bango dan importir serta distributor ternama Belanda, InterAromat BV. Nilai kontrak kerja sama tersebut mencapai USD 120 ribu atau setara Rp2 miliar.
Penandatanganan LoI dilakukan pada Senin, 12 Januari, sebagai tindak lanjut dari rangkaian business matching yang difasilitasi Kemendag pada 23 Desember 2025 dan 8 Januari 2026. Proses ini merupakan bagian dari aktivasi program promosi kuliner Rasa Rempah Indonesia atau S’RASA di Belanda yang telah diluncurkan sejak 2025.
Penandatanganan dilakukan oleh Export and Business Development Manager PT Unilever Indonesia Tbk Yohanes Hendra Setyastanto secara daring dan Chief Executive Officer InterAromat BV Suryo Tutuko secara langsung di ajang pameran Horecava 2026 di Amsterdam. Kegiatan tersebut disaksikan Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid secara daring serta Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar RI di Belanda Mariska Dwianti Dhanutirto secara langsung.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menegaskan, kesepakatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi produk gastronomi Indonesia di pasar Eropa. Selain itu, LoI tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan ekspor kecap Indonesia ke Belanda secara berkelanjutan.
“Berdasarkan riset pasar yang dilakukan InterAromat BV, kecap Indonesia memiliki karakter dan cita rasa khas yang belum dapat ditandingi oleh produk sejenis di pasar Belanda. Dengan rekam jejak panjang serta kualitas yang konsisten, kecap Bango dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pilihan utama konsumen di negara tersebut,” kata Puntodewi, dalam keterangan resminya, (14/1/2026).
Tidak hanya berhenti di Belanda, Puntodewi optimistis ekspor kecap Bango akan merambah ke negara-negara Eropa lainnya. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci dalam memperluas akses pasar internasional bagi produk makanan olahan Indonesia.
“Kami berharap keberhasilan ekspor kecap ini dapat menjadi katalis bagi produk makanan olahan Indonesia lainnya untuk menembus pasar global secara berkesinambungan,” ujarnya.
Program S’RASA sendiri merupakan inisiatif promosi kuliner Indonesia melalui restoran-restoran Indonesia di luar negeri. Program ini digagas Kemendag bersama lima kementerian dan lembaga lainnya sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi berbasis gastronomi.
Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Belanda Mariska Dwianti Dhanutirto menilai S’RASA sebagai langkah strategis yang tidak hanya memperkuat diplomasi budaya, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan ekspor. Restoran Indonesia di luar negeri didorong menjadi pintu masuk bagi ekspor rempah dan bumbu Nusantara ke pasar global.
Pada pameran Horecava 2026, Paviliun Indonesia turut menampilkan restoran peserta program S’RASA, yakni Warung Barokah dan Toko Kalimantan. Keikutsertaan tersebut difasilitasi Atase Perdagangan RI di Den Haag.
Atase Perdagangan RI Den Haag Annisa Hapsari menyatakan, kehadiran restoran Indonesia bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung terkait keaslian cita rasa kuliner Tanah Air sekaligus mempromosikan potensi gastronomi Indonesia di pasar internasional.
Sebagai salah satu merek kecap terkemuka di Indonesia, Bango telah lama dikenal dengan kualitas dan cita rasa otentiknya. Keberhasilan ekspor ini mempertegas posisi kecap Indonesia sebagai produk lokal unggulan yang mampu bersaing di pasar global.








