Penggunaan Liquified Petroleum Gas (LPG) di Indonesia cukup tinggi. Terbukti dari impor LPG yang mencapai Rp40 triliun per tahun. Padahal pengalihan konsumsi minyak tanah ke LPG sama-sama menggantikan energi impor yang satu ke energi impor yang lain.
Nilai subsidi Liquid Petroleum Gas (LPG) disubsidi setiap tahun terus meningkat. Subsidi LPG di dalam APBN tahun 2019 mencapai Rp69 triliun lebih. Jumlah itu setara dengan volume 7 miliar Km LPG. Jumlah subsidi LPG menduduki peringkat energi terbesar berada di atas subsidi BBM Solar, di atas subsidi minyak tanah dan di atas subsidi listrik.
“LPG adalah barang impor. Lebih dari 70 persen LPG yang dikonsumsi masyarakat Indonesia diimpor. Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor LPG terbesar di dunia, di urutan ke-9 dunia,” kata pengemat ekonomi politik Salamaudin Daeng di Jakarta.
Sebagian besar LPG impor berasal dari negara-negara Timur Tengah. LPG adalah produk turunan dari minyak. Penghasil dan pengekspor LPG terbesar di dunia adalah Saudi Arabia, Qatar dan USA. “Semua negara penghasil minyak terbesar adalah pengekspor LPG terbesar,” tutur Daeng.
LPG mendapat prioritas pemerintah, dengan alasan untuk penghematan impor minyak tanah. Program pengalihan konsumsi (konversi) minyak tanah ke LPG dilakukan secara masif. Hal ini tampak dari subsidi LPG yang meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2012. Penggunaan Liquified Petroleum Gas (LPG) di Indonesia cukup tinggi. Hal ini terbukti dari impor LPG yang dilakukan mencapai Rp40 triliun per tahun.
“Padahal pengalihan konsumsi minyak tanah ke LPG sama sama menggantikan energi impor yang satu ke energi impor yang lain,” ujar staf pengajar Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta itu. Akibatnya, Indonesia menjadi salah satu negara negara dengan konsumsi LPG terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan ke-13 sebagai negara dengan konsumsi LPG terbesar. “Konsumsi LPG Indonesia lebih dari 160 ribu setara barel minyak sehari,” tutur Daeng.
Padahal Indonesia adalah negara memiliki sumber energy gas lain yakni Liquid Natural Gas (LNG). Indonesia merupakan salah satu negara pemain LNG yang sangat diperhitungkan dalam hal pemasok energi global. “Namun, sumber energi tampaknya disia-siakan alias tidak dikembangkan sebagaimana mestinya,” ujar Daeng.
Upaya menghemat impor LPG ini dilakukan dengan memasang jaringan pipa gas rumah tangga. Sumber gas alam Sumsel yang besar berasal dari Conoco Philips, Pertamina dan lain-lain. Dirinya menambahkan, dengan gas alam ini aman untuk digunakan karena memiliki berat jenis ringan dan tekanan rendah. Selain itu, lebih praktis, ekonomis dengan suplai 24 jam. “Jadi, ibu-ibu tidak perlu repot membeli dan mengganti tabung LPG lagi jika habis,” ujar Ignatius Jonan.
Sebagai salah satu negara pengekspor LNG terbesar di dunia. Indonesia berada pada urutan teratas bersama Qatar, Australia, Malaysia, Nigeria dan Rusia. “Jika rencana gas Blok Masela benar-benar terealisasi, Indonesia akan menjadi pengekspor terbesar di dunia,” tutur Salamuddin Daeng. Namun, LNG seolah jalan di tempat di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional. Apakah ini disengaja? Apakah ini bagian dari permainan para mafia impor minyak?●








