Dilihat dari namanya, Koperasi Keluarga Guru Jakarta atau KKGJ, sepintas hanyalah koperasi biasa-biasa saja, sekadar menghimpun dana simpanan dan pinjaman anggota untuk mengatasi kebutuhan darurat keuangan para guru di kala tanggung bulan.
Tetapi siapa nyana koperasi yang berdiri sejak 1953 ini mampu membuktikan kepiawaian berbisnis. Tak hanya sibuk di usaha simpan pinjam, juga menyasar sektor produktif, antara lain mini market, SPBU dan Gas. Hasil kerja keras dan cerdas itu membawa posisi KKGJ yang dalam satu dekade terakhir ini menembus deretan kampiun 100 Besar Koperasi Indonesia dengan putaran usaha lebih dari Rp200 miliar.
Dengan masa operasional yang hampir 70 tahun, image KKGJ memang terkesan sebuah koperasi ‘jadoel’. Di rentang waktu yang relatif panjang itu pula koperasi ini semakin matang dalam pengembangan usaha. “Dari tinjauan usia, KKGJ memang masuk kategori koperasi ‘jadoel’, tetapi pengurus dan pengelola senantiasa belajar dan mengikuti perkembangan terkini, berbagai transaksi dengan anggota sudah masuk ranah digitaliasasi,” kata Ketua Umum KKGJ, Tahya, saat berbincang dengan Majalah Peluang.
Menggiring mindset para guru dari orientasi mendidik dan mengajar memasuki wawasan dunia bisnis, tentu saja tidak mudah. KKGJ sedikitnya butuh waktu 40 tahun untuk meyakinkan anggota bahwa berbisnis juga tugas mulya dalam upaya menyejahterakan keluarga. Pada awalnya, lanjut Tahya, koperasi guru apalagi cuma guru SD, tentu konotasinya hanya kelas pinggiran. “Kami terpacu untuk membuktikan bahwa KKGJ adalah sebuah genuine co-operative yang berpotensi jadi bisnis besar,” ujar Tahya.
Pesatnya kemajuan KKGJ, mulai tampak pada awal reformasi lalu, ide-ide bisnis out of the box digagas oleh Agustitin Setyobudi yang kala itu menjabat Ketua Umum KKGJ. Gagasan briliannya diamini segenap anggota, bahwa koperasi tidak lagi hanya bisa mengandalkan usaha simpan pinjam, juga harus memiliki aset produktif untuk investasi.
Hasilnya, KKGJ punya dua pom bensin, sebuah stasiun pengisian bahan bakar gas, serta tiga agen penjualan gas. Langkah untuk berinvestasi itu dirintis sejak 2003. Naluri Agustitin —wafat pada 2020 lalu— menurut Tahya benar, karena setiap melaksanakan RAT dilakukan analisis dan investasi, pemasukan dari usaha simpan pinjam menurun dan unit usaha lain cenderung naik. Bisnis investasi paling prestisius digagas KKGJ adalah membangun sekolah di Citayam, Karawang dan Tambun. Keberadaan sekolah merupakan cita-cita awal para pendahulu KKGJ agar koperasi memberi manfaat bagi masyarakat. Selain itu mendirikan sekolah cocok dengan ketrampilan para guru untuk mengajar. Dengan rasa bangga, Tahya mengatakan SMK yang mereka dirikan di Citayam, masuk lima besar di Bogor.





