hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kinerja Sektor Manufaktur Menunjukkan Daya Tahan di Tengah Tekanan Global

Manufaktur
Ilustrasi | Dok. Ist

PeluangNews, Jakarta – Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengungkapkan, kinerja sektor manufaktur Indonesia tetap menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global.

Kendati melambat, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Maret 2026 masih di zona ekspansi sebesar 50,1.

Angka tersebut turun dibandingkan Februari yang mencapai 53,8, seiring melemahnya permintaan baru dan ekspor, serta meningkatnya biaya input akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global.

Meski menghadapi berbagai tekanan, fundamental industri manufaktur nasional masih terjaga.
Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga,” kata Febrio dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (5/4/2026).

Menurut dia, tekanan terhadap sektor manufaktur dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik global, kenaikan harga energi, serta gangguan rantai pasok internasional.

“Meski demikian, aktivitas industri masih bertahan di zona ekspansi,” katanya.

Febrio mengungkapkan, sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, India, hingga Amerika Serikat masih mencatatkan PMI manufaktur di zona ekspansi, memberikan sinyal positif bagi permintaan global.

Sementara dari dalam negeri, permintaan domestik tetap menjadi penopang utama. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 yang tumbuh 6,9% secara tahunan, didorong momentum Ramadan dan Idulfitri.

Aktivitas sektor riil juga menunjukkan tren positif, antara lain penjualan mobil yang tumbuh 12,2%, penjualan semen meningkat 5,3%, serta konsumsi listrik sektor bisnis dan industri yang tetap ekspansif.

Optimisme masyarakat pun masih terjaga, terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 125,2 pada Februari 2026, mencerminkan persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ke depan.

Di sisi harga, inflasi tetap terkendali meskipun permintaan meningkat selama Ramadan.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2026 tercatat 3,5% secara tahunan, turun dari Februari sebesar 4,8%.

Penurunan inflasi terutama dipengaruhi oleh meredanya tekanan pada komponen harga yang diatur pemerintah dan pangan bergejolak.

Kinerja sektor eksternal juga tetap solid. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, dengan surplus Februari 2026 sebesar US $1,27 miliar.

Secara kumulatif kata Febrio, surplus perdagangan Januari–Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dollar AS, dengan ekspor tumbuh positif didorong komoditas unggulan seperti besi baja, minyak nabati, dan bahan bakar mineral.

Febrio menambahkan, pemerintah akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk melalui pengendalian inflasi, penguatan investasi, serta peningkatan ketahanan energi nasional. []

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate