hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Khairul Fajri, Gagas Sarung Ija Kroeng Selera Milenial

BANDA ACEH—Orang Aceh punya ungkapan tak tertulis “Tiada orang Aceh, yang tidak punya kain sarung”. Pasalnya, orang Aceh selalu memakai kain sarung untuk setiap aktivitasnya.

Berabad-abad sebelum kain sarung tersohor di Nusantara, Aceh juga salah satu daerah yang pertama mengenal budaya mengenakan sarung. Kain sarung dalam bahasa lokal disebut Ija Kroeng.

Mulanya pada masa kerajaan kain sarung berbentuk songket,  baru kemudian berkembang menjadi yang  umum digunakan hingga sekarang kain sarung dengan motif umum kotak-kotak.

Bagi Khairul Fajri  (41 tahun) kain sarung motif kotak-kotak sudah tidak sesuai lagi dengan keinginan generasi milenial Aceh.

“Kain sarung  itu bisa dibuat dibuat sesuai keiginan anak muda. Bukan hanya monoton kotak-kotak. Kalau kotak-kotak masuk mal  mungkin ada anggapan bahwa ini ada orang kampung atau orang pesantren ngapaian masuk? Bagaimana kalau kain sarung dibuat kekinian, akan sama saja dengan busana bergengsi ,” ungkapKhairul ketika dihubungi Peluang, Senin (27/9/21).

Warga Banda Aceh ini kemudian mendirikan pembuatan sarung dengan produksi sarung selera milenial dengan modalRp 11 juta dari kakak dan kakak iparnya.  Usahanya berlokasi di di Jalan Teuku Umar Lorong Mahya No 51 Gampong Setui, Banda Aceh dan mempunyai toko di Kampung Pineng Banda Aceh.

“Kami tidak menggunakan bahan umum yang orang umumnya pakai sarung tenunan. Tetapi bahan  yang biasa dipakai untuk baju dan celana hingga terkesan lebih mewah dan lebih adem,” ujar pria kelahiran 1980.

Khairul mengaku tidak datang dari keluarga wirausahawan, tetapi ayah seorang  guru dan ibu rumah tangga. Latar belakang pendidikannya mekanik. Dia pernah bekerja di Migas, kemudian setelah tsunami menghantam Aceh, Khairul bekerja di berbagai NGO.

Kemudian dia sempat ke Jakarta mendirikan perusahana limbah. Sayangnya usaha ini  gagal dan Khairul kembali ke Aceh pada 2013. Kemudian setelah menikah dia mendirikan UKM Ija Kroeng ini pada 2015.

Sebelum pendemi kapasitas produksi 150-200 lembar per bulan hingga setahun mencapai sekitar 2.500.   Produknya sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia, Malaysia, juga ke Denmark dan Norwegia, Swedia, Finlandia. Ija Kroeng mempunyai reseller di sana. Hingga sebelum pandemi meraup  omzet per tahun di bawah Rp500 juta. Pendeknya, produknya sudah diterima pasar internasional, bukan saja Indonesia.

Pada masa pandemi Khairul dan timnya sempat banting stir membuat masker dengan menggunakan bahan kain sarung yang kualitasnya lebih tinggi. Dia mengaku terbantu menjadi mitra Bank Indonesia sejak 2018, dengan kurasi ketat, hingga membuat produknya mudah  mengikuti pameran dan dia mudah mengakses pelatihan dan punya kesempatan masuk ke berbagai instansi.

 “Rencana ke depan kami ingin lebih banyak  memberdayakan perempuan Aceh. Kami sudah bekerja sama dengan SMK 3 Banda Aceh. Kami ingin meningkatkan pangsa ekspor, namun terutama supaya budaya lain sarung diterima masyarakat seluruh Indonesia,” pungkasnya (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate