KEDIRI—Pensiun menjadi guru tidak membuat Suradi berhenti beraktivitas melakukan kegiatan yang bisa memberinya penghasilan tambahan. Warga Dusun Kweden, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini membuat inovasi tape menjadi makan ringan berupa keripik.
Kendati prosesnya cukup sederhana, namun untuk masalah rasa sangat cocok untuk lidah masyarakat Indonesia.
Suradi menjadikan tape singkong dalam bentuk irisan tipis lanjutnya disimpan dalam lemari pendingin hingga membeku. Irisan tape tersebut dimasukkan kedalam alat penggorengan vacuum frying selama kurang lebih satu jam.
Alat penggorengan tersebut, selain dapat digunakan untuk menggoreng juga berfungsi untuk menghilangkan kadar air pada tape. Fungsinya keripik yang dihasilkan akan renyah dan tidak mudah melempem.
Sementara untuk menghilangkan sisa-sisa minyak yang masih menempel, selanjutnya tape tersebut dimasukkan ke dalam mesin peniris minyak, rasa manis dari tape yang masih dominan membuat keripik ini laris diburu pembeli.
“Alhamdulillah mendapat bantuan alat penggorengan dan alat pengemasan dari Pemkab Kediri. Proses produksi lebih mudah dan cepat, padahal sebelumnya saya menggoreng secara tradisional menggunakan penggorengan berukuran besar, selain lama, konsumsi gasnya pun juga boros”, ujar Suradi seperti dilansir Beritajatim, Jumat (12/1/21).
Suradi juga memproduksi varian keripik lainnya, aneka kripik, seperti kripik nangka, kripik pisang, dan kripik singkong yang telah dimulai sejak awal tahun 2018 lalu, sementara untuk penjualannya pada waktu itu hanya dengan cara dititipkan ke pedagang sayur keliling, hingga akhir.
Pada 2020, Suradi mencoba mengembangkan usahanya dengan memproduksi kripik berbahan buah nanas, nangka dan tape singkong tersebut.
“Awalnya 2018 membuat keripik singkong, selanjutnya baru akhir 2020 lalu saya mencoba berinovasi dengan memproduksi keripik tape, keripik nanas dan keripik nangka”, ungkap Suradi.
Kini dengan dibantu 2 karyawannya, serta adanya bantuan alat vacuum frying untuk proses penggorengannya, serta continous sealer band untuk alat pengemasannya, Suradi mampu memproduksi 80 bungkus kripik berukuran 100 gram dan 200 gram setiap harinya.
Sementara untuk penjualan kripik yang dibandrol harga Rp 5 ribu hingga 20 ribu per kemasan tersebut kini telah menyebar di sejumlah daerah di wilayah Kediri dan sekitarnya hingga ke Surabaya.








