JAKARTA—Badan Ketahanan Pangan mengungkapkan, data terkini produksi jagung di Jawa Timur 5,37 juta ton, Jawa Tengah (3,18 juta ton), Lampung (2,83 juta ton), Sumatera Utara (1,83 juta ton), Sulawesi Selatan (1,82 juta ton), NTB (1,66 juta ton), Jawa Barat (1,34 juta ton), Sulawesi Utara (0,92 juta ton), Gorontalo (0,91 juta ton) dan Sumatera Selatan (0,80 juta ton).
Plt. Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy menyampaikan, data tersebut menunjukkan potensi jagung di Indonesia sangat besar. Di luar 10 provinsi yang disebut di atas, masih banyak propinsi lainnya yang menghasilkan jagung.
“Jagung seharusnya menjadi salah satu pangan lokal sumber karbohidrat yang ber potensi untuk digunakan sebagai pangan pokok selain beras,” kata Sarwo saat Webinar: Jagung, Sumber Karbohidrat Kaya Manfaat yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (8/9/21).
Sarwo mengatakan, masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia selama ini telah mengonsumsi jagung. Sebut saja, NTT menjadi propinsi dengan konsumsi jagung tertinggi. Diikuti Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, NTB, Sulawesi Selatan, Lampung dan Sumatera Selatan.
Sementar sebagian besar produksi jagung dimanfaatkan untuk kebutuhan di luar konsumsi langsung seperti industri dan pakan ternak. Angka produksi hampir berhimpitan dengan total penggunaan da untuk itu perlu upaya meningkatkan produksi komoditas ini,” katanya.
Dalam upaya diversifikasi pangan, pemerintah bertekad untuk menurunkan konsumsi beras menjadi 85 kg per kapita pertahun pada 2024. Posisi konsumsi beras saat ini sebesar 94 kg perkapita pertahun.
Target yang ingin dicapai adalah peningkatan konsumsi jagung. Jika tahun 2019 hanya 1,7 kg/kapita/tahun, tahun 2020 sebanyak 1,8 kg/kapita/tahun, maka tahun 2024 menjadi 4,1 kg/kapita/tahun.
“Ini sasaran kita kedepan. Tentunya dengan sasaran lokasi pengembangan di tujuh propinsi yaitu NTT, Gorontalo, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Tengah, Bali dan Lampung,” tutupnya.








