hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kemendag–JETRO Buka Jalan Produk Lokal Tembus Negeri Sakura

Kemendag–JETRO Buka Jalan Produk Lokal Tembus Negeri Sakura
Kemendag–JETRO Buka Jalan Produk Lokal Tembus Negeri Sakura.

PeluangNews, Jakarta — Peluang UMKM Indonesia menembus pasar Jepang kian terbuka.

Sebanyak 30 pelaku UMKM nasional dipertemukan langsung dengan empat raksasa ritel Jepang dalam agenda penjajakan bisnis (business matching) yang digelar Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Japan External Trade Organization (JETRO) di Jakarta, Selasa (20/2).

Pertemuan ini bukan sekadar temu wicara. UMKM Indonesia yang bergerak di sektor fast-moving consumer goods (FMCG)—mulai dari furnitur, home living, kosmetik dan perawatan kulit, produk hewan peliharaan, hingga makanan dan minuman—diberi ruang untuk mempresentasikan produk unggulan, menunjukkan sampel, hingga menegosiasikan harga secara langsung dengan calon mitra Jepang.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan business matching ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperluas akses ekspor produk FMCG Indonesia ke Jepang, pasar yang dikenal ketat soal kualitas dan keamanan produk.

“Hari ini kami mempertemukan pemasok dan produsen Indonesia dengan ritel Jepang. Ini menjadi sarana penting untuk menyelaraskan standar pasar agar produk Indonesia mampu memenuhi persyaratan dan kebutuhan pasar Jepang,” ujar Puntodewi saat membuka kegiatan.

Skema pertemuan one-on-one dinilai efektif karena memberi kesempatan UMKM menjelaskan keunikan produk sekaligus memahami ekspektasi mitra Jepang secara detail. Puntodewi menilai, kerja sama Indonesia–Jepang tak lagi harus bertumpu pada sektor otomotif semata.

“Kami melihat potensi besar di sektor furnitur, home living, wellness, perawatan tubuh, hingga produk kecantikan. Sektor FMCG dan produk kreatif Indonesia bisa menjadi katalis kebangkitan ekspor pada 2026,” katanya.

Secara data, ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang pada Januari–November 2025 tercatat sebesar USD 14,08 miliar. Angka ini memang turun 17,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya akibat dinamika global. Namun dalam lima tahun terakhir, tren perdagangan Indonesia–Jepang tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total perdagangan Indonesia–Jepang pada periode Januari–November 2025 mencapai USD 29,29 miliar. Meski turun 10,45 persen secara tahunan, Indonesia masih mencatatkan surplus USD 2,64 miliar.

Presiden Direktur JETRO Jakarta, Shinji Hirai, menyebut kegiatan ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah. Di sisi lain, perusahaan Jepang juga aktif mencari produk berkualitas tinggi untuk pasar ritel mereka.

“Kegiatan ini dapat menjadi referensi bagi pemasok Indonesia untuk memahami kebutuhan pasar Jepang, sekaligus membantu perusahaan Jepang menemukan mitra baru dari Indonesia,” ujarnya.

Respons positif juga datang dari pelaku UMKM. Ferdi, perwakilan Sagara Group, mengapresiasi fasilitasi Kemendag dan JETRO yang dinilainya membuka peluang konkret bagi produk lokal naik kelas.

“Kami berterima kasih atas kesempatan ini. Kami berharap business matching seperti ini bisa membantu produk UMKM khas lokal menembus pasar global dan diikuti lebih banyak pelaku usaha lainnya,” katanya.

Hal senada disampaikan Antin Sambodo dari Jinjit Pottery. Ia berharap produknya dapat menyesuaikan preferensi pasar Jepang dan membangun kerja sama jangka panjang.

“Kami ingin produk kami hadir dan berkelanjutan di pasar Jepang. Fasilitasi seperti ini sangat membantu,” tutupnya.

Dengan pertemuan langsung dan pendekatan yang lebih terarah, business matching Kemendag–JETRO menjadi sinyal kuat bahwa UMKM Indonesia tak hanya siap bersaing di dalam negeri, tetapi juga mulai serius menggarap pasar global.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate