hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Keloraya Terimbas Pandemi, Ketika Permintaan Dunia Meningkat

ACEH JAYA—Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah tanaman yang memiliki ketinggian 7-11 meter, berbatang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar; percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang

Daun kelor dipercaya dapat mencegah berbagai penyakit karena mengandung banyak nutrisi yang sangat penting. Daun kelor mengandung semua unsur asam amino essensial yang sangat penting, yakni unsur argine, histidine, isoleucine, leusine, lysine, methionine, phenylalinine, threonine, tryptophan, dan valine.

Selain itu, daun kelor juga mengandung protein, lemak, beta carotene (vitamin A), thiamin (vitamin B1), riboflavin (B2), niacin (B3), vitamin C, kalsium, karbohidrat, tembaga, serat, zat besi, magnesium, dan fosfor.

Di tangan warga desa Panton Makmur, Calang, Aceh Jaya daun ini menjadi obat herbal, mulai daro minyak biji kelor, serbuk daun kelor, kapsul kelor, sabun kelor hingga masker kelor.  Mantan karyawati pabrik elektronik di Jakarta dan Cikarang ini mendirikan brand Keloraya pada 2016 dengan modal Rp3 juta.

Cut Susi mengatakan, daun kelor didpatnya dari kebun petani dan kebun sendiri awalnya malah ditanam hanya untuk pagar. Namun setelah diketahui manfaatnya  akhirnya jadi mata pencaharian buat petani.

“Cerita awal dari usaha kelor ini terinspirasi dari binaan NGO setelah mengalami tsunami kami belajar sampai ke Malaysia dan kamboja,” tutur Cut Susi kepada Peluang, Rabu (6/10/21).

Sebelum pandemi perempuan kelahiran 1980 ini mampu memproduksi seribu pieces setiap varian dengan harga Rp10 ribu hingga Rp2,5 juta.  Produk herbal ini dipasarkan ke seluruh Indonesia, Malaysia, Korea Selatan hingga Amerika Serikat.

“Sebelum pandemi omzet kami mencapai Rp12 juta per bulan dengan tujuh karyawan. Nmaun sesudah pandemi hanya satu karyawan, omzet anjlok hingga 90 persen,” ujar Susi.

Cut Susi mengaku, menurunnya omzet selama 2021 ini akibat kurangnya permintaan dari luar daerah dan terkendala ongkir yang terlalu mahal. Namun dia tetap memutuskan mempertahankan produksi tapi dalam skala kecil. Dia juga merasa menjadi mitra Bank Indonesia sejak 2019  membantunya dalam promosi dan pelatihan.

“Ke depannya kami berencana mau membuka usaha bakeri, namun tidak meninggalkan usaha daun kelor ini, karena permintaan pasar pasca PPKM ini mulai meningkat lagi,” imbuh Cut Susi.

Dia berharap iklim usaha kembali pulih.  Sebagai catatan daun kelor menjadi incaran di sejumlah negara Eropa, Timur Tengah, sampai Amerika Serikat (AS) karena dijuluki superfood, karena manfaatnya bagi kesehatan (Irvan).


pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate