MAMUJU—Sejak 2010 Pemerintah Kabupaten Mamuju mendorong pengembangan budi daya rumput laut. Dua tahun kemudian kabupaten ini mampu memproduksi 22 ribu ton rumput laut dan pada 2020 produksi rumput laut stabil dengan capaian 25 ribu ton.
Semangat budi daya rumput laut di hulu memicu pertumbuhan UKM yang memproduksi olahan rumput laut di hilir. Di antara UKM tersebut adalah Sejahtera Bahari yang didirikan seorang ibu rumah tangga bernama Kasmawati pada 2010.
Dia diundang oleh Dinas BAPPEDA Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat untuk melakukan magang khusus pengolahan rumput laut yang ada di daerah Kabupaten Bantaeng selama 7 hari.
“Waktu itu saya terinspirasi dengan hasil rumput laut yang melimpah ruah di daerah kami. Akhirnya timbul ide mengolah rumput laut jadi makanan camilan, seperti keripik, snack hingga dodol,” ujar Kasmawati kepada Peluang, Kamis malam (25/3/21) melalui Whatsapp.
Hingga waktu rumput laut hanya dikirim secara gelondongan langsung ke Makasar. Dengan adanya UKM seperti Sejahtera Bahari, rumput laut lebih bayak bisa diserap.
Setiap bulan camilan produksi Kasma berkisar antara 800 hingga seribu per bungkus dengan harga rata-rata Rp12.000. Dia menawarkan varian snack rumput laut rasa keju, kacang rumput laut dan dodol rumput laut. Kacang rumput laut diibandroll Rp18.00 dan dodol Rp15.000 per bungkus.
Pihaknya juga melakukan diversifikasi usaha dengan membuat abon ikan tuna dan ikan marlin. Kini Kasma diperkuat delapan karyawan tetap dan 10 karyawan tidak tetap.
“Kami sempat menghadapi musibah gempa bumi melanda Mamuju hingga pandemi mengakibatkan 85 persen produksi menurun,” ujar Kasma yang masih tetap bertahan.
Bahkan kini Kasma menciptakan produk baru, yaitu snak rumput laut rasa buah naga, nangka dan cokelat. Secara masif Sejahtera Bahari memasarkan lewat daring memanfaatkan media sosial, selain secara fisik di toko oleh-oleh.
“Kami juga membuat kemasan lebih kecil dengan harga Rp7.000. Mudah-mudahan kami bisa bangkit lagi, seperti semula,” tutup warga Komplek BTN, Mamuju ini (Van).








