hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kambing Bergulir Untuk Berdayakan Fakir Miskin

Masyarakat mengapresiasi program kambing bergulir karena memberi harapan untuk keluar dari jerat kemiskinan. Saat ini, ada 400 ekor kambing yang dikelola oleh beberapa kelompok peternak  di sekitar kantor BMT ABN.

Program pemberdayaan masyarakat kurang mampu merupakan salah satu program prioritas dari KSPPS BMT Assyafi’iyah Berkah Nasional (ABN). Melalui Baitul Maal yang dimilikinya, koperasi terbesar di Lampung itu melaksanakan program kambing bergulir untuk mengentaskan kemiskinan.

Ketua Pengurus BMT ABN, Supadin mengatakan, tujuan program kambing bergulir adalah untuk memberdayakan masyarakat kurang mampu yang berada di sekitar lokasi kantor ABN. “Ibaratnya kami memberikan kail dan bukannya ikan kepada masyarakat agar mereka dapat berdaya dan produktif,” ujar Supadin.

Program kambing bergulir itu sudah dimulai sejak 2015 lalu. Sistem yang diterapkan yaitu kambing diserahkan kepada masyarakat yang mempunyai kemauan dalam mengurusnya supaya diternak dengan menyertakan surat keterangan tidak mampu dari aparat desa setempat. Namun, dalam beternak ada batasan yang telah disepakati, ketika sudah dua kali peranakan induk kambing tersebut dipindahkan untuk dirawat oleh orang lain yang membutuhkan.

Selama enam tahun berjalan, program itu mendapat respons positif dari masyarakat. Ini dibuktikan dari bertambahnya jumlah kambing maupun peternak. Sehingga program ini akan terus dilanjutkan karena sudah terbukti memberi manfaat kepada masyarakat.

Supadin menambahkan, melihat dampak positif dan antusiasme masyarakat yang tinggi, program ini akan terus dilanjutkan ke depannya. “Kami berkomitmen untuk meneruskan program kambing bergulir ini agar kemiskinan dapat dientaskan,” ungkapnya.

Cara pemberdayaan masyarakat dengan memberi kail daripada ikan ini cukup tepat karena dapat merangsang produktivitas dan menghindari mentalitas ketergantungan bagi penerimanya. Sebab, penerima dituntut untuk merawat kambing dengan benar agar hasilnya dapat bermanfaat. Ini membutuhkan kerja keras dan kesabaran agar memperolah hasil yang optimal.

Pada kesempatan berbeda,  Lailatul Fatimah, Kepala Divisi Baitul Maal BMT ABN mengungkapkan, program kambing bergulir bermula dari keinginan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu di lingkungan kantor BMT ABN. Dana awal pembelian kambing berasal dari infak anggota yang dikelola Baitul Maal BMT ABN.

“Dulu, saya dan beberapa rekan berinisiatif untuk melakukan pemberdayaan melalui kambing, kami beri nama ‘Kambing Bergulir’, modal awal kita dapatkan dari infak yang terkumpul dari Koin Zakat anggota yang dimana akan kita berikan kepada yang berhak menerima, yaitu fakir miskin,” paparnya.

Saat ini, jumlah kambing mencapai 400 ekor dari 48 Kantor cabang yang tersebar di 3 Provinsi yaitu Lampung, Sumatera Selatan, dan Banten. Ia pun terus mengupayakan agar kambing yang dikelola masyarakat dapat terus bertambah. Oleh karenanya, Lailatul mengimbau agar anggota semakin rajin berzakat di Baitul Maal.

Selama proses pemberdayaan berlangsung, penerima bantuan mendapat bimbingan oleh Pengurus BMT ABN dan Baitul Maal. Dalam program ini penerima kambing wajib mematuhi aturan main yang ditetapkan BMT antara lain hasil ternak tidak diperbolehkan untuk dijual semua dan harus melapor kepada penanggungjawab yang telah ditunjuk. Tujuannya untuk memastikan hasil penjualan dari hewan digunakan untuk hal yang bermanfaat.

“Anak kambing tidak boleh dijual secara keseluruhan agar tidak habis pakai dan bisa berkembang terus bagi masyarakat yang menerima. Kami tidak  meminta hasil ternak satu rupiah pun agar peternak dapat hasil yang maksimal. Yang terpenting sebelum menjual kambing tersebut harus melaporkan kepada kami agar bisa mengecek penjualan kambing benar-benar digunakan untuk hal bermanfaat,” ungkapnya.

Peternakan kambing bergulir yang dilakukan secara berkelompok ini juga dilakukan agar masyarakat disiplin. Sebab, jika indukan dapat dipelihara dengan baik maka kelompok pengelola berikutnya juga dapat merasakan manfaat yang sama dengan kelompok sebelumnya. Oleh karena itu, pengurus BMT ABN melakukan pendampingan dan pengawasan secara langsung kepada kelompok peternak.

Salah satu kelompok peternak kambing bergulir ini berlokasi di Desa Sritejo Kencono Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah. Mereka mengaku senang dengan program itu karena dapat memberikan pemasukan bagi keluarga. 

Lailatul menambahkan, pihaknya juga siap menerima masukan baik dari pihak penerima ataupun masyarakat sekitar untuk kemajuan program tersebut.  “Selama enam tahun perjalanan kambing bergulir ini tentunya ada permasalahan, namun dapat ditangani dan akhirnya membuahkan hasil, masyarakat yang diberdayakan juga senang karena dapat menernak kambing tanpa harus membeli,” pungkasnya.

Program kambing bergulir untuk mengentaskan kemiskinan ini relevan dengan kondisi kekinian. Akibat pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan sehingga angka kemiskinan meningkat. Dengan adanya program itu, masyarakat pun memiliki kesempatan untuk keluar dari jerat kemiskinan yang membelenggu.  (Kur)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate