hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kambara Belajar dari China: Ketika Ajaran Ibnu Khaldun Hidup di Negeri Komunis

Kambara Belajar dari China: Ketika Ajaran Ibnu Khaldun Hidup di Negeri Komunis
Kambara Belajar dari China: Ketika Ajaran Ibnu Khaldun Hidup di Negeri Komunis/Dok.Peluang News-Ho Humas

Peluang News, Jakarta – Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara atau akrab disapa Kambara, menilai bahwa kemandirian ekonomi China tumbuh karena bangsa tersebut menguasai sektor produksi. Menurutnya, keberhasilan China menjadi kekuatan ekonomi dunia bukan karena retorika, melainkan karena kerja keras dan keberanian untuk memproduksi.

“Negara China bekerja, memproduksi, dan memastikan negeri mereka tidak bergantung pada bangsa lain,” ujar Kambara sepulang dari lawatannya ke Tiongkok bersama Vivo, pada 15–21 Oktober 2025.

Kambara menuturkan, hampir di seluruh sektor—mulai dari otomotif, elektronik, hingga teknologi digital—China menunjukkan arah yang konsisten menuju kemandirian produksi.

“Lihat saja otomotif dan elektronik mereka. Dari ratusan merek mobil listrik, handphone, hingga sepeda listrik, kini banyak yang merajai pasar dunia, termasuk di Indonesia. Bahkan Google Maps pun tidak efektif di sana karena mereka punya sistem peta sendiri yang jauh lebih lengkap dan mandiri. Itulah bukti bahwa mereka fokus pada produksi dan kemandirian, bukan wacana,” jelasnya.

Menurut Kambara, pelajaran terbesar dari China adalah keberanian untuk menciptakan teknologi sendiri, bukan sekadar menjadi konsumen.

“Saya melihat langsung bagaimana seluruh tenaga dan kebijakan negara diarahkan untuk memproduksi barang dan teknologi yang dibutuhkan rakyatnya. Itulah sebabnya mereka mandiri,” ujarnya.

Ajaran Ibnu Khaldun di Negeri Komunis

Menariknya, Kambara menilai bahwa apa yang dilakukan China sejatinya merupakan praktik nyata dari ajaran ekonomi Islam klasik yang digagas oleh Ibnu Khaldun.

“Sepertinya China mempraktikkan ajaran ekonomi Islam Ibnu Khaldun, yang menegaskan bahwa kalau negara mau maju, kuasai produksi,” tegasnya.

Ibnu Khaldun (1332–1406 M), pemikir besar dunia Islam melalui karya monumentalnya Muqaddimah, sudah menulis konsep-konsep ekonomi yang bahkan mendahului teori para ekonom Barat seperti Adam Smith.

Dalam pandangan Ibnu Khaldun, produksi adalah kegiatan sosial fundamental yang bergantung pada kerja manusia sebagai faktor utama. Nilai suatu barang muncul dari usaha manusia dalam menciptakannya. Produksi, menurutnya, tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan melalui kerja sama, pembagian tugas, dan spesialisasi.

Ia menulis; “Kerja manusia adalah dasar dari nilai semua kekayaan… jika seseorang memperoleh sesuatu tanpa kerja, itu hanyalah pemindahan harta dari orang lain, bukan hasil produksi.”(Ibn Khaldun, The Muqaddimah: An Introduction to History, terj. Franz Rosenthal, Princeton University Press, 1967, Jilid II, hal. 312).

Selain itu, Ibnu Khaldun menekankan keterkaitan antara populasi, produksi, dan kesejahteraan. Pertumbuhan penduduk, menurutnya, akan mendorong permintaan pasar dan memperluas kegiatan produksi. Bagi Ibnu Khaldun, uang bukan tujuan, melainkan hanya alat tukar untuk mempermudah perdagangan.

Kambara mengaitkan pandangan ini dengan strategi ekonomi China yang berhasil mentransformasi diri dari ekonomi agraris menjadi kekuatan industri dunia.

“Mereka tidak hanya bekerja keras, tapi membangun sistem produksi yang berkelanjutan dan berbasis keahlian rakyatnya. Itulah esensi ekonomi mandiri yang juga diajarkan Ibnu Khaldun,” tutur Kambara.

Kambara menegaskan, bangsa-bangsa Muslim, termasuk Indonesia, harus belajar dari China untuk membangun kemandirian produksi jika ingin maju dan bermartabat.

“Negara tidak akan maju jika hanya bergantung pada konsumsi. Produksi adalah jalan menuju martabat dan kemandirian,” pungkasnya. (Aji)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate