hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kamaruddin Batubara, Pesan Bung Hatta: “Koperasi Kredit adalah Sendi Koperasi”

TANGERANG—Suatu hari pada 1957 Mohammad Hatta mengatakan, membangun koperasi kredit adalah sendi dari gerakan koperasi kita. Koperasi kredit mendahulukan simpanan anggota yang lemah ekonominya. Simpanan diadakan tiada berkeputusan.

Pernyataan Wakil Presiden RI yang pertama ini kembali dikumandangkan Presiden Direktur koperasu BMI Kamaruddin Batubara dalam   Webinar Nasional Kementerian Koperasi dan UKM dalam rangkaian Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke 74, Sabtu (10/7/21).

Webinar ini dipandu Penulis Buku Koperasipreuner Sularto dan Praktisi Koperasi Arysad Dalimunthe bertajuk “Menciptakan Ekosistem Koperasi Berbasis Anggota Menuju Koperasi Modern”.

Turut hadir sebagai narasumber dalam webinar yakni Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim, akademisi dan peneliti perkoperasian IPB Lukman Mohammad Baga dan Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP), Kopdit Pintu Air Yakobus Jano.

Lanjut Kamaruddin, kata tiada berkeputusan ini diterjemahkan oleh Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Benteng Mikro Indonesia dengan membuat banyak macam simpanan yang memudahkan kebutuhan anggota yang lemah anggotanya.

“Aset Kopsyah BMI yang baru Rp800 miliar itu terdiri dari 70 persen anggota,” ucap pria yang karib disapa Kambara ini di depan lebih dari 800 perserta webminar.

Kambara mengapresiasi  Kementerian Koperasi menggiring agar semua masuk ke sektor produsen agar masuk ke koperasi sekunder (holding koperasi). 

Dalam presentasinya dia mengungkapkan lima alasan mengapa harus beroperasi. Ada lima alasan, pertama adalah amanah Pasal 33 UUD 1945 Pasal 1,2 dan 3. Pasal ini mendudukan koperasi sebagai sokoguru atau pilar ekonomi Indonesia.

Kedua, nilai dan jati diri koperasi sangat Indonesia. Ketiga, semangat pemerataan ekonomi yang berkeadilan.

Keempat adalah wadah yang tepat untuk berkarya, mengabdi dan menebar manfaat kepada sesama dan terakhir membangun korporasi koperasi yang menguasai hulu dan hilir sektor ekonomi Indonesia.

”Jika kiblat kita adalah kapitalisme atau menyerahkan ekonomi Indonesia ini ke pasar liberal maka kita mengkhianati konstitusi kita. Koperasi sangat Indonesia yakni semangat gotong royong,” papar Kambara.  

Kambara juga mengungkapkan  tujuh ciri penting koperasi disebut modern. Ketujuhnya yakni koperasi tersebut harus memiliki manajemen yang profesional (SOP, SOM, RENSTRA, RK-RAPB, AD-ART, buku panduan dan operasional seperti Buku Model BMI Syariah). Kemudian SDM yang milenial, Diklat dan pendampingan berkala, gaji terendah setara UMR, reward dan punsihment.

Koperasi yang modern adalah koperasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan fokus pemberdayaan yang mensejahterakan untuk pemerataan ekonomi berkeadilan.

Setiap yang menjadi anggota BMI, hidupnya harus terangkat dan ekonominya maju. Kalau dia tambah susah, bubarkan koperasinya.

“Kalau anggotanya maju kita ajak untuk menyimpan agar bisa membantu permodalan saudara-saudara anggotanya yang belum mampu ,” pungkas Penerima Anugerah Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI di Harkopnas ke 70, Juli 2018 silam.    

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate