hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
UMKM  

Kakao Lokal Naik Kelas, Cokelatin Laris di Pasar Global

Produk Cokelatin. Foto: Ratih/Peluang
Produk Cokelatin. Foto: Ratih/Peluang

PeluangNews, Jakarta-Perjalanan UMKM Cokelatin bermula dari dapur rumah pada 2016. Di tangan sang founder, Nugroho Surosoputro, usaha bubuk minuman cokelat ini tumbuh dari skala rumahan menjadi produsen yang menembus pasar internasional dengan omzet tahunan mendekati Rp4 miliar.

Mengusung merek Cokelatin Signature, Nugroho konsisten menggunakan biji kakao asli Indonesia sebagai bahan baku utama. Seluruh produknya 100 persen berbasis kakao lokal tanpa campuran impor.

“Kami produsen bubuk minuman cokelat dari bahan baku biji kakao asli Indonesia. Kami juga tidak mengekspor bahan baku, tetapi dalam bentuk produk jadi agar brand Indonesia lebih dikenal,” kata Nugroho kepada PeluangNews, di acara Meet The Market, di Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Cokelatin memiliki empat varian utama, yakni Java Criollo, Dark Chocolate, Creamy Latte, dan Sweet Classic. Tiga varian menggunakan kakao dari Sulawesi Selatan, sementara Java Criollo memanfaatkan varietas kakao langka Criollo dari Jawa.

Varietas Criollo sendiri hanya tersisa sekitar 5 persen di dunia dan hampir punah. Melalui produk ini, Cokelatin menghadirkan bubuk minuman Criollo pertama di Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Tak hanya berorientasi bisnis, Cokelatin juga menaruh perhatian pada keberlanjutan. Perusahaan membeli kakao dengan harga adil dari petani dan melakukan rehabilitasi kebun kakao di Banten, daerah yang dahulu dikenal sebagai salah satu sentra produksi kakao nasional.

“Kami ingin kakao tetap ditanam petani dan Banten bisa kembali menjadi penghasil kakao,” kata Nugroho.

Saat ini, kapasitas produksi Coklatin mencapai sekitar 60 ton per bulan. Produk mereka telah menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan Arab Saudi, dengan penjualan terbesar berada di Arab Saudi.

Di dalam negeri, Cokelatin memasok produk secara B2B ke sejumlah hotel berbintang lima seperti Grand Hyatt, Marriott, DoubleTree, dan Pullman, serta ke berbagai kafe dan restoran. Untuk pasar ritel, produk tersedia di marketplace, modern market, dan melalui jaringan agen serta reseller. Harga produk dibanderol mulai Rp25.000 hingga Rp360.000.

Ekspansi global pun terus digenjot. Setelah bertemu buyer dari Jepang, Belanda, Hungaria, dan Italia dalam ajang di Smesco, Cokelatin dijadwalkan mengikuti pameran Foodex di Jepang pada Maret mendatang.

Bagi pelaku UMKM yang ingin menembus pasar global, Nugroho berpesan agar tidak terburu-buru.

“Step by step, konsisten, jangan mudah menyerah. Branding harus kuat dan kesiapan harus matang sebelum ekspor,” tuturnya.

Menurutnya, salah satu kendala UMKM adalah kecenderungan menunggu peluang datang. Padahal, kunci utama adalah aktif membuka pasar dan berjualan setiap hari.

Dari dapur sederhana hingga pasar dunia, Cokelatin menjadi bukti bahwa kakao lokal Indonesia mampu naik kelas, bukan hanya sebagai bahan mentah, tetapi sebagai produk bernilai tambah yang membawa nama Indonesia ke panggung global.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate