hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
UMKM  

Jelang Inabuyer 2026, Smesco Saring Ratusan UMKM

Pembukaan Meet The Market, Jakarta(11/2/2026). Foto: Ratih/Peluang
Pembukaan Meet The Market, Jakarta(11/2/2026). Foto: Ratih/Peluang

PeluangNews, Jakarta – Antusiasme pelaku UMKM membludak dalam ajang Meet the Market yang digelar di Smesco, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Dari 587 pendaftar, hanya 200 UMKM yang lolos kurasi dan berkesempatan melakukan business matching dengan 25 gerai ritel modern dalam rangkaian Road to Inabuyer 2026.

Direktur Utama Smesco, Doddy Akhmadsyah Matondang, menjelaskan bahwa Meet the Market merupakan bagian dari pre-event menuju Inabuyer 2026, sebuah agenda kolaborasi antara HIPINDO dan Kementerian UMKM yang mempertemukan UMKM dengan ritel modern.

“Sebenarnya ini adalah acara Meet the Market atau Jumpa Pasar. Ini bagian dari rangkaian Road to Inabuyer. Tujuannya untuk melakukan penyaringan terlebih dahulu, sehingga saat puncak Inabuyer 2026 digelar, kami sudah bisa menyampaikan capaian, potensi transaksi, peluang, dan prospeknya secara lebih konkret,” kata Doddy, kepada PeluangNews, usai acara pembukaan.

Ia menyebut, forum ini dirancang lebih teknis dan mendalam karena membuka ruang diskusi langsung antara UMKM dan buyer.

Dari 587 UMKM yang mendaftar, proses seleksi dilakukan berdasarkan lima bidang, yakni F&B, R&D, craft, agriculture, dan lainnya. Hasilnya, 200 UMKM dinyatakan siap masuk tahap business matching.

“Sebanyak 200 UMKM ini akan kami business matching-kan dengan 25 gerai modern yang sudah terdaftar. Kami juga mengundang PT Pos Indonesia, MRT, Telkom, beberapa yayasan seperti Yayasan Desa Emas dari Malaysia, Pertakina, Berbagi Kerja Indonesia, hingga perwakilan kedutaan Arab Saudi, Pakistan, Italia, dan China,” jelasnya.

Menurut Doddy, angka penyaringan dari 587 menjadi 200 memang signifikan, namun bukan berarti ratusan lainnya tidak layak.

“Kami memiliki sejumlah kriteria yang diminta mitra, misalnya kapasitas produksi. Ada yang mensyaratkan kesiapan seribu unit. Beberapa UMKM belum siap karena masih tahap awal. Selain itu, ada syarat kualitas dan sertifikasi seperti BPOM atau standar organik,” katanya.

Ia menegaskan, UMKM yang hadir sudah dinilai siap menembus pasar mitra. Bahkan, dukungan pembiayaan juga terbuka.

“Pak Wakil Menteri menyampaikan, jika ada UMKM yang membutuhkan pembiayaan, segera diinvetarisasi dan akan didukung. Itu komitmen beliau,” ungkap Doddy.

Soal keluhan harga produk UMKM yang dianggap lebih mahal dibanding produk impor di marketplace, Doddy menilai perbandingan tersebut tidak selalu tepat.

“Kita harus bedakan antara mass production dengan produk handmade. Upaya, material, tenaga, dan waktu yang digunakan berbeda. Nilai autentik produk handmade itu yang harus dipahami,” tegasnya.

Ia mengajak masyarakat untuk melihat nilai kualitas dan keaslian produk dalam negeri, bukan sekadar harga.

Sementara itu, Ketua Umum HIPINDO Budihardjo Iduansjah mengatakan, kegiatan ini sebagai bagian dari rangkaian Ina Buyer yang rutin digelar setiap Mei.

“Ini bagian dari persiapan menuju event yang lebih besar. Melalui kegiatan ini, para buyer retail dan asosiasi bisa bertemu langsung dengan UMKM yang sudah dikurasi. Ini win-win solution, karena kami juga membutuhkan produk-produk yang bagus,” ungkapnya, ditemui di acara yang sama.

Menjawab anggapan bahwa masuk ke retail modern itu rumit, Budihardjo membantah. Menurutnya, syaratnya jelas dan terukur.

“Sebenarnya tidak serumit itu. Produk harus punya barcode karena sistemnya sudah scan, memiliki izin seperti BPOM, SNI, atau izin edar. Kemasan harus menarik karena di rak tidak ada yang menjualkan secara langsung,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi harga antara online dan offline.

“Harga tidak boleh berbeda-beda. Harus ada harga eceran yang sama untuk retail, distributor, maupun online. Jangan sampai di online Rp10 ribu, di offline Rp15 ribu. Kalau begitu, produk di offline pasti tidak laku,” tegasnya.

Menurutnya, struktur biaya retail memang berbeda karena ada biaya sewa tempat, listrik, dan karyawan. Namun harga eceran tetap harus seragam agar ekosistem bisnis berjalan sehat.

Ke depan, HIPINDO berharap ajang seperti ini semakin membuka akses pasar bagi UMKM nasional.

“Harapan kami, kegiatan ini membantu UMKM memperluas market dan memperkuat produk mereka. Jangan langsung berpikir ekspor. Kuasai dulu pasar dalam negeri. Kalau di dalam negeri sudah jago, baru ekspor,” pungkas Budihardjo.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate