BANDUNG—-Setiap kali saya ke Bandung untuk waktu singgah lebih dari dua hari, saya selalu menyempatkan diri untuk singgah di Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda untuk trekking sejauh 6 kilometer hingga di pintu gerbang Maribaya.
Waktu tempuh melintas jalan setapak yang membelah hutan asri sekira 2 jam. Pulang kalau singgah di Maribaya, naik angkot dari sana kembali ke Bandung. Kalau tidak naik ojek kembali ke pintu Tahura. Kalau saya bisa menempuh jarak 6 km dengan waktu sekira 2 jam (terkadang 2,5 jam), berarti fisik masih prima di usia 40 tahunan.
Trekking di Tahura Djuanda tidak pernah menjemukan, karena di taman tempat start saja banyak yang bisa dilihat taman rekreasi dekat pintu masuk dengan aneka satwa sperti burung dan kera, hingga jembatan gantung dengan sungai mengalir masih baik di bawahnya.
Perjalanan juga begitu, bisa melihat gua peninggalan Belanda hingga gua Jepang, beberapa curug hingga penangkaran rusa. Tiketnya pun terjangkau seharga Rp13 ribu (sekarang Rp15 ribu). Belakangan dengan tiket ini jadi bisa juga singgah di Tebing Keraton, suatu spot swafoto untuk melihat hutan yang asri.
Tahura Djuanda ini luasnya 590 hektare dalam bentuk saat ini diresmikan pada 1985. Keberadaannya sebagi hutan lindung sudah ada sejak masa Hindia Belanda. Saya hanya menemukan destinasi yang digemari masa itu di Majalah Mooi Bandoeng yang terbit pada 1930-an hanya menyebut Curug Dago sebagai tempat yang indah untuk berendam. Dulu namanya Hutan Lindung Gunung Pulosari dan baru dibangun pada 1960.
Kini ada wacana Tahura akan diperluas menjadi 3.200 hektare dan akan menembus hingga wilayah Jatinangor. Perluasan Tahura dilakukan untuk konservasi Kawasan Bandung Utara yang kian tergerus hingga dikhawatirkan menjadi bencana ekologi bagi Bandung.
Menurut Kepala Taman Hutan Raya Djuanda Lian Lubis kalau ini menjadi kenyataan, maka dalam beberapa tahun Tahura akan menjadi hutan tropis yang asyik bagi kegiatan masyarakat. Alumni Perancangan Kota ITB ini menepis anggapan bahwa kalau jadi kawasan konservasi masyarakat tidak boleh melakukan apa-apa, maka itu persepsi ayng salah.
“Ada yang namanya blok tradisional, di mana masyarakat bisa melakukan aktivitas ekonomi dengan mengikuti kaidah-kaidah konservasi dan ada bagi hasil di situ. Bersama Tahura ditentukan langkah-langkah konservasinya. Tentunya tidak sembarangan tanam pohon, hingga tidak teratur,” papar Lian kepada Peluang, Rabu (18/12/19).
Menurut Lian kalau menyangkut lahan pertanian, maka bisa dibuat agro forestik. Mereka harus paham yang ditanam pohon besar, pertanian akan lebih bagus.
“Persoalannya hal ini belum disosialisasikan dan belum dipraktikan secara baik. Selain itu pengendalian air hujan yang turun ke bumi bisa lebih baik. Hingga persoalan Bandung Utara kekurangan air di musim kemarau bisa diatasi,” kata Lian.
Bagi saya sendiri perluasan hutan tropis ini bisa membuat jelajah benar-benar seperti menjelajah rimba dan aman. Bisa butuh seharian untuk mencapai Gunung Manglayang atau Jatingangor. Tetapi itu asyik, karena akan ada spot untuk beristirahat dengan penjual makanan dari warga, seperti yang saya temui waktu trekking.
Oh, ya kuliner yang disajikan warga di saung selain jagung bakar, ada juga nasi merah dengan lauk ikan asing hingga ayam goreng. Rasanya nikmat sekali sehabis berjalan jauh. Selain itu ada musala di beberapa spot dengan air pancuran.
Yang menarik, pengelola Tahura juga memberi keterangan petunjuk jalan hingga spesies pohon. Dengan demikian jelajah Tahura Djuanda bukan hanya menikmati udara yang asri, tetapi juga wisata edukasi sejarah dan pengetahuan biologi.
Jadi saya berharap perluasan Tahura menjadi kenyataan, hingga tersedia alternatif wisata yang murah meriah, petualangan yang relatif aman dengan manfaat pengetahuan konservasi hingga edukasi sejarah.
Pintu taman ini terletak di Dago Atas, tak jauh dari terminal Dago. Bagi mereka yang naik angkot bisa naik ojek dari terminal ke pintu gerbang(Irvan Sjafari)








