hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Jaga Harga, Kementan Guyur 1,7 Ton Cabai Rawit Merah ke PIKJ

Foto: Istimewa

PeluangNews, Jakarta — Pemerintah kembali bergerak cepat merespons gejolak harga cabai rawit merah menjelang Ramadan. Upaya menjaga pasokan dan menahan laju kenaikan harga dilakukan melalui penyaluran langsung dari sentra produksi ke pasar induk terbesar di Ibu Kota.

Kementerian Pertanian (Kementan) kembali mengguyur sebanyak 1,7 ton cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) pada Minggu (22/2/2026). Langkah ini merupakan bagian dari upaya konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan harga cabai rawit merah di tingkat konsumen.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, mengungkapkan bahwa PIKJ akan terus menerima pasokan cabai rawit merah dari sentra produksi melalui dukungan kuat dari champion cabai yang telah dibangun Kementan di berbagai daerah.

“Pasokan ke PIKJ akan terus kami jaga. Champion cabai di sentra produksi siap mengirimkan cabai rawit merah secara berkelanjutan agar kebutuhan masyarakat selama Ramadan tetap terpenuhi,” kata Agung dalam keterangannya pada Minggu (22/2/2026).

Agung menegaskan bahwa harga cabai rawit merah yang disuplai oleh champion cabai ditentukan di kisaran Rp50.000 per kilogram. Untuk menjaga agar harga tetap terjangkau di tingkat konsumen, pemerintah melalui Fasilitasi Distribusi Pangan-Bapanas memberikan subsidi biaya transportasi dari sentra produksi ke PIKJ. Dengan skema tersebut, harga tertinggi di tingkat konsumen diharapkan tidak melebihi Rp65.000 per kilogram.

Lebih lanjut, Agung menjelaskan bahwa secara umum harga komoditas hortikultura lainnya relatif stabil. Cabai rawit putih berada di kisaran Rp30.000 per kilogram, cabai keriting hijau Rp25.000 per kilogram, cabai besar merah Rp40.000 per kilogram, dan cabai keriting merah Rp50.000 per kilogram. Dari seluruh jenis cabai tersebut, hanya cabai rawit merah yang mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan harga cabai rawit merah di awal Ramadan dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi di sejumlah sentra produksi. Intensitas hujan yang meningkat menyebabkan aktivitas pemetikan tidak dapat dilakukan secara optimal, sehingga pasokan sempat tertahan. Selain itu, memasuki bulan Ramadan terdapat tradisi nyekar atau ziarah kubur di berbagai daerah yang turut meningkatkan permintaan cabai di awal puasa.

“Curah hujan tinggi membuat petani tidak bisa melakukan pemetikan optimal. Ditambah peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan, menyebabkan harga sempat naik. Namun dengan intervensi distribusi ini, kami optimistis harga segera stabil,” ungkap Agung.

Kementan di bawah komando Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan cabai di seluruh wilayah Indonesia. Koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, champion cabai, serta pemangku kepentingan lainnya terus diperkuat untuk menjaga kelancaran distribusi dari sentra produksi ke pasar.

Upaya stabilisasi ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat selama bulan suci Ramadan. Kementan menegaskan bahwa intervensi distribusi akan terus dilakukan secara responsif apabila terjadi lonjakan harga, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan harga terjangkau.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate