Koperasi bisa berperan sangat penting guna membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM). Terutama guna menyalurkan program bantuan atau kredit untuk permodalan mereka.
PERAN koperasi sangat penting guna menggairahkan ekonomi nasional, karena koperasi bisa menjangkau UMKM yang kini sekitar 64 juta pelaku UMKMB. Di tengah pandemi, harusnya koperasi menjadi garda terdepan pemulihan ekonomi nasional, lewat UMKM. Pasalnya, koperasi yang punya database terkait dengan pelaku langsung UMKM. “Pihak perbankan saja biasanya ambil data dari koperasi. Jadi, pemerintah harus memulihkan peran koperasi, agar ekonomi kerakyatan kembali bergairah,” ujar peneliti dari Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara.
Lagi pula, sektor perbankan saat ini sangat minim dalam menyalurkan bantuan kredit, terutama untuk pelaku UMKM karena risiko tinggi gegara kekhawatiran kredit macet. Jangan lupa, pelaku UMKM sangat sulit mendapatkan permodalan dari perbankan. Soalnya, harus ada jaminan. “Padahal pelaku mikro biasanya tidak memilikinya,” ujar Bima.
“Kalau bicara permodalan, di koperasi lebih efektif karena persyaratannya minim. Selain itu, koperasi bisa menjangkau dan mengetahui persis seluk beluk usaha seluruh anggotanya,“ ujarnya. Di era digital seperti saat ini, koperasi tetap harus ada. Toh belum semua pelaku usaha UMKM bisa menjangkau semua lewat platform digital. Karena itu, pemerintah (Kemenkop dan UKM) harus memperbesar peran koperasi agar koperasi bisa menjadi andalan masyarakat dalam mengembangkan usaha.
Senada dengan Indef, Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorini menyebut, dengan berkoperasi ada keuntungan lebih. Yaitu, bunga lebih rendah dan tanpa jaminan. “Sangat sedikit usaha mikro yang punya jaminan. Kepastian penghasilan pun rendah. Jika dibebani bunga (besar), mereka akan kesulitan. Tapi dengan koperasi bunga bisa jauh lebih rendah, berkisar 0,5 persen dari omset, sehingga tidak membebani,” ujar Hermawati. Kelebihan lainnya, koperasi ditangani dan dipantau Kemenkop dan UKM.
Selama pandemi ini, UMKM sedang jadi Anak Emas. Baik Kementerian, BUMN, maupun swasta, banyak yang menggulirkan program bantuan. Program itu perlu ditangani secara benar, agar tak salah sasaran. “Kalau peranan koperasi kembali digaungkan, penyaluran dana atau program dari pemerintah bisa lebih cepat dan tepat tersalurkan. Sosialisasikan dan edukasi masyarakat agar mereka tertarik untuk berkoperasi,” tutur Hermawati
Masalahnya, kata Ketua Asosiasi Kader-Sosio Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menambahkan, jika ada program pemerintah, perbankan hanya memakai data lama. Jika melibatkan koperasi, bisa menyentuh langsung dengan masyarakat bawah, terutama para pelaku usaha yang terkena dampak pandemi. Semua anggota koperasi biasanya mereka yang memang langsung bergerak di sektor usaha mikro.
Koperasi tahu betul mana yang memang harus menerima program bantuan dan mana saja yang bisa mendapatkan pinjaman tanpa ribet. “Lewat koperasi bisa lebih tepat sasaran, karena keanggotaan dari koperasi biasanya memang mereka yang usaha di skala mikro,” ujar Suroto. Jika pemerintah ingin membesarkan koperasi kembali, itu sangat mudah. Bubarkan koperasi yang tidak benar dan promosikan koperasi yang memang benar dan kredibel. Perketat pengawasan agar tidak ada oknum nakal, baik pejabat maupun orang atau golongan tertentu, yang memanfaatkan koperasi untuk kepentingannya sendiri. Poin pentingnya, kata Suroto, di tengah pandemi seperti sekarang butuh wadah seperti koperasi untuk menjalankan demokrasi ekonomi kerakyatan.●(dd)








