INDRAMAYU-— Koperasi Gapoktan(Gabungan Kelompok Tani) Tani Mulus di Desa Mundajaya, Indramayu Jawa Barat hingga 2020 ini mampu mengelola lahan pertanian seluas 278 hektare (ha). Koperasi itu tahun ini menargetkan penambahan lahan garapan seluas 10 ribu ha.
Menurut Ketua Gapoktan Muhaimin secara omzet koperasi pangan ini masih kecil. Berdasarkan RAT Tahun Buku 2019, koperasi yang berdiri sejak 2012 hanya menghasilkan omzet bersih sekira Rp186 juta, namun mempunyai aset Rp2 miliar.
“Produksi beras kami pada 2019 kemarin mencapai 200 ton. Kami sudah menjalankan bisnis dari hulu ke hilir, di mana kami membeli gabah petani, menggiling dan memasarkannya. Hanya saja untuk meningkatkan skala bisnis, kami membutuhkan pembiayaan,” ujar Muhaimin ketika dihubungi Peluang, Senin (20/7/20).
Hal itu diungkapkan ketika koperasi beranggotaan 166 petani ini menerima kunjungan Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki dan Direktur Utama LPDB Supomo, Minggu (19/7/20). Dalam kunjungan itu menurut Muhaimin, Gapokan Tani Mulus akan dijadikan pilot project dan dana bergulir akan dibicarakan.
“Insha Allah kami siap jadi koperasi berskala koporasi,” tekadnya.
Sementara Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyampaikan siap memberikan alternatif pembiayaan bagi koperasi pangan yang mengalami masalah likuiditas.
“Ada skema pembiayaan talangan karena semua ritel atau juga non ritel itu tidak bisa cash karena konsinyasi 14 hari. Jadi saya kira kebutuhan-kebutuhan ini nanti akan kita selesaikan supaya betul-betul koperasi bisa tumbuh besar,” kata Teten dalam keterangan persnya, Minggu (19/7/20).
Teten mendorong koperasi-koperasi sektor pangan masuk dalam skala bisnis supaya koperasi tersebut dapat tumbuh berkembang.
Jika produksinya dalam skala bisnis dia bisa mendapatkan pasar yang stabil, juga mendapatkan skema pembiayaan baik pembiayaan modal kerja untuk produksi, maupun investasi untuk pembangunan RMU dan pengolahan hasil padinya.
“Banyak petani yang menjual hasil panennya itu langsung ke pasar. Biasanya seperti itu petaninya tidak terlindungi. Kalau nanti ini dalam bentuk koperasi, koperasi jadi offtaker yang beli dari hasil panen petani lalu koperasi juga mengarahkan petani tanam,” paparnya.
Menurut Teten, dengan konsep korporatisasi petani maka koperasi yang akan melindungi petani dari permainan harga.
“Kalau koperasi juga bisa memberikan dana talangan juga ketika petani membutuhkan di saat panen raya itu juga bisa menahan penjualan padi di panen raya ketika harga jatuh. Itu yang dibutuhkan,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Teten turut menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Koperasi Gapoktan Tani Mulus dengan PT Caracas Global Mandiri tentang pembelian beras. Serta meninjau lahan pertanian dan sarana pengolahan beras koperasi (Irvan Sjafari).








