hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Isi Waktu Senggang, Ibu Rumah Tangga Ini Jualan Camilan Kentang Mustofa

JAKARTA-–Bagi mereka yang suka makan di Warung Tegal kerap menemukan salah satu penemuan pilihan berupa keripik kentang yang dipotong kecil-kecil seperti korek api, lalu digoreng garing dan dilumuri bumbu balado.

Tidak banyak yang tahu bahwa  menu itu adalah kentang mustofa.  Pencetusnya adalah seorang chef Istana Cipanas era Presiden Soekarno bernama Opo Mustofa.

Mustofa ini kreatif mengolah kentang-kentang sisa dari olahan menu makanan yang disajikan kepada Presiden dalam potongan-potongan kecil.

Pada suatu hari, kentang olahan Chef Mustofa itu tidak tersaji di meja makan presiden.Mendapati ada hal yang kurang, Presiden bertanya kepada pramusaji, “Kentang Mustofa, mana?”Sejak itulah nama tersebut populer dari mulut ke mulut untuk menyebut olahan kentang garing yang diberi sambal balado.

Beberapa tahun terakhir ini kentang mustofa bisa dikemas menjadi usaha camilan yang bisa mengisi waktu luang para ibu rumah tangga untuk menambah uang belanja.

Hal inilah yang dilakukan Nuryati, 58 tahun, warta Petogoga, Jakarta  Selatanini  tidak ingin menganggur setelah empat anaknya besar.  Dua tahun lalu punya ide untuk menyulap kentang mustofa menjadi camilan kemasan dalam toples, seperti halnya bawang goreng dan kacang.

“Inspirasi saya sendiri. Saya kerjakan sendiri dan saya pasarkan berdasarkan pre order ke kantor-kantor. Anak saya pernah membawa ke Dubai, Uni Emirat Arab dan ternyata produk itu disukai,” cerita Nuryati.

Brand produknya bernama Harvel ini dibandroll dengan harga Rp40 ribu per toples dengan varian pedas, manis dan asin. Dalam sebulan Nuryati mampu memproduksi 10-13 lusin toples. Kalau ada pesanan besar dia dibantu dua karyawan lepas.  Menurut dia dalam kemasan toples, kentang mustofa bisa tahan satu bulan.

Namun ia mengaku masa pandemi omzetnya berkurang drastis. Nuryati mengaku belum mencoba penjualan secara masif melalui daring, dengan memanfaatkan e-commerce.

Nuryati mengaku sangat terbantu oleh Program Jakpreneur selama setahun yang membuatnya mengetahui cara mengemas produk dan memasarkannya.

“Ke depan kalau ada modal, saya ingin mengembangkan produk saya dengan skala yang lebih besar dan pemasaran yang lebih luas,” Saya ingin bisnis yang lebih serius, bukan hanya sekadar isi waktu, tutupnya (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate