TERNATE—Maluku terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya sejak abad ke 16. Karena rempah-rempah para petualang asing dan akhirnya penjajah Barat datang ke Maluku. Rempah-rempah awalnya digunakan untuk bumbu hingga pengawet makanan.
Irmawati A Husen, seorang warga Jalan Bali Bunga, Kelurahaan Tabona, Ternate, Maluku Utara melakukan inovasi membuat produk olahan dari rempah, seperti selai kenari, snack kenari abon pala, nastar pala hingga teh pala.
Dengan brand Ifamoy, Irmawati mendirikan usaha ini pada 2007. Pada awal memulai bisnis, Irma hanya menitipkan produknya di warung-warung kecil sekitar rumahnya.
Perlahan tapi pasti, modal pun terus bergulir hingga saat ini ia memiliki pelanggan tetap di berbagai wilayah di Indonesia. Seperti wilayah Maluku Utara sendiri, Ambon, Sumatera, Jakarta, dan daerah besar lainnya.
Pesatnya kemajuan bisnis Ifamoy semakin terlihat jelas kala ia memutuskan bergabung menjadi mitra binaan Pertamina pada 2020 lalu. Berkat bantuan modal yang diterima, ia bisa melipat gandakan produksi kopi kenari yang semula 100 cap per hari menjadi 10x lipat hingga 1.000 cap setiap harinya.
Kenaikan produksi yang berkali lipat ini pun berimbas pada omzet yang didapatkan. Jika sebelum menjadi binaan Pertamina, Irma mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp20 juta tiap bulan. Kini pendapatannya bisa mencapai angka Rp60 juta setiap bulan.
“Sungguh banyak perubahan besar terjadi pada usaha saya setelah menjadi binaan Pertamina. Karena banyak program dan pendampingan yang bagus,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Kamis (25/3/21).
Irma merasa, dengan perkembangan bisnis ini maka harus lebih banyak warga sekitar yang turut merasakan manfaatnya. Akhirnya, ia pun memberdayakan para pekerja yang merupakan ibu rumah tangga dan para wanita yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Hal ini sebagai implementasi SDGs poin ke 8 yakni menyediakan lapangan pekerjaan.








