DEPOK—Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) IPB University menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Kelurahaan Ratujaya, Depok untuk menerapkan inovasi Pengembangan Model Pekarangan Ramah Lebah Madu atau dikenal Pekarangan Si Madu.
Inovasi karya staf pengajar dari Departemen Arsitektur Lanskap Hadi Susilo Arifin, Nurhayati dan Kaswanto meraih Program Matching Fund 2021 Kedaireka Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI.
Pekarangan Si Madu secara resmi dilaunching di lokasi KWT Ratujaya Depok, pada 12 Februari. Lokasi ini juga merupakan lokasi penerapan manajemen lanskap rendah karbon.
Juru Bicara Departemen Arsitektur Landskap IPB University Amarizni Mosyaftiani, MSi menyampaikan, Pekarangan Si Madu merupakan area pekarangan yang ditanami sayuran, bunga, serta pohon buah yang mendukung ketersediaan pakan untuk lebah madu.
Dalam pekarangan tersebut juga diletakkan rumah lebah madu sehingga penghuni rumah dapat mengonsumsi madu setiap saat.
Dengan adanya Pekarangan Si Madu, banyak manfaat yang bisa diambil masyarakat.
“Selain ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH), masyarakat juga dapat memanen hasil dari tanaman sayur, buah dan juga memperoleh keindahan dari tanaman hias,” kata Amarizni dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/2/22).
Lanjut dia, manfaat lainnya berupa madu yang dihasilkan dari rumah lebah yang dapat dipanen sekitar tiga atau empat bulan.
Pekarangan Si Madu (KASIMADU) juga memberikan jasa eduwisata bagi masyarakat atau wahana belajar bagi mahasiswa.
Eduwisata berupa paket untuk tiga orang, 10 orang dan juga 15 orang. Adapun benefit yang diperoleh diantaranya edukasi cara bertanam, cara berkebun, memetik buah dan sebagainya.
“Saya berharap kolaborasi pentahelix antara pengusaha, akademisi, pemerintah, media massa, dan masyarakat ini menjadi semakin lebih kompak dan meluas. Semoga program ini bisa bermanfaat dan Kota Depok bisa menjadi lebih asri lagi,” imbuh Amarizni.
Dr Kaswanto, peneliti IPB University sekaligus inovator Pekarangan Si Madu menyampaikan, lokasi Pekarangan Ramah Lebah Madu juga didesain untuk pelatihan, dengan difasilitasi produk-produk inovasi hasil karya KWT sebagai nilai tambah ekonomi.
Ia mengaku, saat ini sudah bisa menerima peserta pelatihan eduwisata, menerima dari kelompok wanita tani lainnya yang ingin studi banding atau bergabung di IG @eduwisata.kasimadu
“Saya berharap, inovasi KASIMADU ini bisa menyentuh setiap rumah tangga yang ada di Indonesia. Sementara, pelatihan eduwisata ini tidak berhenti hanya di sini tetapi dapat ditularkan ke kelurahan, kabupaten atau kota juga provinsi di seluruh Indonesia, sehingga inovasi ini semakin bermanfaat dan dapat dirasakan oleh masyarakat,” tutur Kaswanto.
Sementara, Ketua KWT Khodijah, Rodiyah merasa sangat terbantu karena dengan hadirnya inovasi IPB University dan Rimbun Lanscape. Ia kini mengetahui banyak hal khususnya budidaya lebah madu.
“Sehingga kita jadi mengetahui begitu besar manfaat lebah klanceng. Selain itu kita juga mendapat manfaat lebih dari lahan pekarangan berupa penambahan ekonomi baru khususnya bagi Warga RW 06,” pungkasnya.





