hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Inovasi CT X-ray dan AI Dorong Peran BRIN di Teknologi Radiasi Industri

ilustrasi Foto: BRIN

PeluangNews, Jakarta – Perkembangan teknologi radiasi industri menjadi salah satu penopang penting dalam peningkatan keselamatan, mutu, dan efisiensi di sektor industri maupun penanganan kebencanaan. Melalui penguatan kolaborasi internasional, Indonesia terus mendorong pemanfaatan teknologi tersebut agar lebih inklusif dan aplikatif.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengambil peran aktif dalam upaya tersebut melalui IAEA Collaborating Centres Webinar Series bertajuk “Tech Talk – Advancing Industrial Radiation Technology” yang diselenggarakan secara daring beberapa waktu lalu. Kegiatan ini mengulas inovasi pengembangan Computed Tomography (CT) sinar-X berbiaya rendah serta pemanfaatan Non-Destructive Testing (NDT) berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung kebutuhan industri dan manajemen kebencanaan.

Section Head of Radiochemistry and Radiation Technology IAEA, Celina Horak, menilai teknologi Industrial X-ray Computed Tomography (CT) semakin krusial dalam proses inspeksi industri modern. Menurutnya, teknologi ini memungkinkan pemeriksaan struktur internal material secara presisi tanpa merusak objek, sehingga berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas dan keselamatan.

“Teknologi ini membawa manfaat besar, namun menuntut pengukuran yang andal, perlindungan radiasi yang efektif, serta tenaga kerja yang terampil,” ujar Celina.

Ia juga menegaskan pentingnya peran IAEA Collaborating Centres dalam memastikan standar dan panduan global dapat diterapkan secara efektif di tingkat nasional. “Pusat kolaborasi mengubah panduan global menjadi kemampuan lokal melalui pelatihan, pengujian, dan proyek percontohan,” tambahnya.

Sementara itu, Maman Kartaman yang mewakili Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN menyampaikan bahwa Non-Destructive Testing (NDT) merupakan teknologi strategis dalam menjaga keandalan fasilitas industri sekaligus melindungi manusia dan lingkungan. “NDT berperan penting dalam memastikan integritas fasilitas sekaligus melindungi manusia dan lingkungan,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Maman juga menyoroti dukungan berkelanjutan IAEA dalam pengembangan kapasitas Indonesia di bidang teknologi nuklir dan radiasi. Kerja sama melalui berbagai program nasional, regional, dan penelitian dinilai telah memberikan kontribusi nyata, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan transfer teknologi. Salah satu contohnya adalah pengembangan CT sinar-X melalui mekanisme kolaborasi dengan IAEA.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sejak 2015 Indonesia telah dipercaya sebagai IAEA Collaborating Centre di bidang NDT. Saat ini, BRIN telah mengajukan perpanjangan status tersebut untuk periode ketiga. “Hal ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Indonesia dalam memperkuat kemitraan strategis dengan IAEA,” tegasnya.

Pada sesi teknis, Peneliti Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN, Kristedjo Kurnianto, memaparkan pengembangan sistem CT sinar-X berbiaya rendah yang ditujukan untuk memperluas akses lembaga riset dan industri terhadap teknologi inspeksi non-destruktif.

“Sistem CT industri yang tersedia secara komersial umumnya bernilai sangat mahal, sehingga sulit diakses oleh banyak lembaga riset dan industri. Karena itu, kami mengembangkan sistem CT sinar-X dengan biaya yang lebih rendah namun tetap dapat digunakan untuk berbagai aplikasi,” jelas Kristedjo.

Ia menjelaskan bahwa sistem CT tersebut dikembangkan dengan pendekatan modular dan pemanfaatan komponen yang lebih terjangkau, tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai alat inspeksi internal.

“Pendekatan ini memungkinkan teknologi CT dimanfaatkan lebih luas, tidak hanya untuk inspeksi komponen industri, tetapi juga untuk penelitian material, pertanian, hingga bidang lain yang membutuhkan pencitraan internal tanpa merusak objek,” ujarnya.

Kristedjo menambahkan, pengembangan ini sejalan dengan rekomendasi dan program IAEA serta mendukung agenda BRIN dalam mendorong kemandirian teknologi nasional berbasis riset.

Sesi selanjutnya diisi oleh Industrial Technologist IAEA, Hannah Asamoah Affum, yang menekankan pentingnya pemanfaatan NDT berbasis AI dalam penanganan kebencanaan, khususnya untuk evaluasi teknis infrastruktur pascabencana.

“Setelah terjadi bencana, sangat penting untuk dapat menilai kondisi struktur bangunan secara cepat dan akurat. NDT memungkinkan kami mendeteksi kerusakan yang tidak terlihat secara visual, sehingga keputusan yang diambil dapat lebih tepat dan aman,” ungkap Hannah.

Ia menjelaskan, integrasi AI dalam metode NDT mampu mempercepat proses analisis data sekaligus menjaga konsistensi hasil penilaian. “Dengan dukungan AI, proses penilaian dapat dilakukan lebih cepat dan berbasis data, yang sangat dibutuhkan dalam situasi darurat pascabencana,” katanya.

Melalui peluncuran Coordinated Research Project (CRP) IAEA F22087, Hannah menambahkan bahwa IAEA bersama para mitra akan menyusun protokol, pedoman pelatihan, serta standar global terkait penerapan AI-augmented NDT. Inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat kesiapsiagaan negara-negara anggota dalam menghadapi bencana.

Penyelenggaraan webinar ini kembali menegaskan posisi BRIN sebagai bagian dari jejaring IAEA Collaborating Centres dalam memperkuat kolaborasi internasional, mendorong pertukaran pengetahuan, serta mengembangkan riset terapan di bidang teknologi radiasi industri.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate