
PeluangNews, Jakarta – Pelaku UMKM didorong untuk tidak sekadar mengandalkan marketplace dan media sosial dalam berjualan. Dibutuhkan strategi digital yang terstruktur dan berbasis data agar bisnis tidak hanya viral sesaat, tetapi mampu tumbuh berkelanjutan.
Entrepreneur digital Tyofan Ari Widagdo menegaskan, saat ini hampir semua UMKM telah memanfaatkan platform seperti TikTok dan Shopee, terutama melalui fitur live selling dan konten pemasaran. Namun, strategi tersebut harus dibangun dengan pendekatan yang lebih sistematis.
“Saat ini tantangannya bukan hanya bagaimana produk dikenal, tetapi bagaimana membangun sistem pemasaran yang mampu mengubah orang yang belum mengenal brand menjadi pelanggan loyal,” ujarnya dalam acara Raya Local Market di SMESCO Indonesia, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Menurut Tyofan, pendekatan growth hacking menjadi salah satu strategi yang relevan diterapkan UMKM. Konsep ini menekankan pada tahapan funneling pemasaran yang jelas, mulai dari awareness (membangun kesadaran), akuisisi, konversi, hingga retention atau mempertahankan pelanggan.
Ia menjelaskan bahwa setiap fase harus memiliki ukuran konversi yang terpantau. Strategi akuisisi bisa dilakukan dengan memberikan free sample, free trial, atau konten gratis seperti ebook sebagai pemicu minat. Pendekatan ini dikenal sebagai lead magnet.
“Lead magnet bukan sekadar memberi gratis, tetapi strategi untuk menarik calon pelanggan masuk ke dalam sistem digital kita. Dari sana, kita bisa mengumpulkan database berupa email atau nomor WhatsApp,” jelasnya.
Menurutnya, database pelanggan merupakan aset paling penting dalam bisnis digital. Ketergantungan penuh pada platform media sosial berisiko tinggi karena perubahan algoritma atau bahkan potensi pergeseran platform.
“Follower bisa hilang, platform bisa berubah. Tetapi jika kita memiliki database sendiri, komunikasi dengan pelanggan tetap terjaga,” tegas Tyofan.
Ia menambahkan, dalam membangun database memang diperlukan strategi biaya yang terukur. Produk dengan margin tipis bahkan tanpa keuntungan bisa dijadikan pintu masuk, sementara keuntungan utama diperoleh dari penjualan lanjutan dengan margin lebih besar.
Selain itu, strategi upselling juga perlu diterapkan untuk meningkatkan nilai transaksi. Prinsipnya sederhana: setelah pelanggan membeli satu produk, tawarkan produk tambahan yang relevan.
Tyofan juga mengingatkan pentingnya memahami segmentasi pasar, yakni cold market, warm market, dan hot market. Pelanggan yang sudah pernah membeli (hot market) justru memiliki potensi transaksi ulang yang paling besar.
“Sering kali UMKM terlalu fokus mencari pelanggan baru, padahal pelanggan lama adalah aset terbesar yang harus dijaga,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa tahapan pemasaran tidak berhenti pada konversi. Retention menjadi fase krusial agar bisnis dapat tumbuh stabil. Tanpa strategi mempertahankan pelanggan, pertumbuhan usaha akan stagnan.
Dengan penerapan strategi digital berlapis, pengelolaan berbasis data, serta kepemilikan database pelanggan sendiri, UMKM dinilai memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas dan berdaya saing di era ekonomi digital.








