
PeluangNews, Inggris – Angkatan Laut Kerajaan Inggris tengah bersiap mengambil peran kunci dalam kemungkinan operasi koalisi untuk membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini dilaporkan The Times pada Selasa (24/3).
Menurut laporan tersebut, pejabat pertahanan Inggris sedang mengkaji rencana pengerahan kapal angkatan laut maupun kapal komersial sewaan yang akan difungsikan sebagai “kapal induk” bagi sistem otonom tanpa awak. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi sekaligus menetralisir ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya multinasional yang lebih luas bersama sejumlah sekutu, termasuk Amerika Serikat dan Prancis, guna menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz—salah satu jalur transit energi paling vital di dunia.
Pejabat yang dikutip menyebutkan bahwa operasi kemungkinan akan dilakukan dalam beberapa tahap. Pada fase awal, fokus diarahkan pada misi perburuan ranjau menggunakan sistem otonom canggih yang diluncurkan dari kapal induk.
Selanjutnya, fase kedua berpotensi melibatkan pengerahan kapal permukaan tanpa awak yang beroperasi bersama kapal perusak Tipe 45 milik Angkatan Laut Inggris, atau hanya kapal perusak saja, untuk mengawal kapal tanker yang melintas di kawasan tersebut.
“Kami memiliki kemampuan kelas dunia dalam perburuan ranjau otonom, didukung kekuatan kapal perusak Tipe 45 serta pengembangan konsep angkatan laut hibrida. Ini memberi peluang untuk mengamankan selat tanpa mempertaruhkan keselamatan personel,” ujar seorang pejabat.
Baca Juga: Perang Timur Tengah, Luhut: Harga Minyak Mentah Bisa Melonjak Hingga US $150 Per Barrel
Pihak pertahanan Inggris meyakini ranjau laut telah ditempatkan di kawasan itu, meski masih terdapat “koridor aman” yang dilalui kapal-kapal dari India, Pakistan, dan China.
Ketegangan di Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menyasar Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Sejak awal Maret, aktivitas di Selat Hormuz juga dilaporkan terganggu. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melintasi selat ini setiap hari, dan gangguan tersebut telah mendorong kenaikan biaya pengiriman serta harga minyak global. (Aji)








