hayed consulting
hayed consulting
octa vaganza

Industri Mamin Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri makanan dan minuman (mamin) sebagai salah satu sektor andalan dalam menopang perekonomian nasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri makanan dan minuman (mamin) sebagai salah satu sektor andalan dalam menopang perekonomian nasional.

PeluangNews, Jakarta-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri makanan dan minuman (mamin) sebagai sektor andalan perekonomian.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, “Industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,15 persen pada triwulan II Tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,12 persen.”

Ia menambahkan, “Sektor makanan dan minuman telah menjadi motor utama pertumbuhan industri pengolahan nonmigas. Selain mendominasi pangsa pasar industri, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta berperan penting dalam mendorong ekspor.”

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengungkapkan, “Hingga Mei 2025, ekspor industri makanan dan minuman mencapai USD18,59 miliar dengan surplus perdagangan sebesar USD13,14 miliar.”

Putu juga menyoroti investasi yang meningkat. “Investasi di industri mamin tumbuh signifikan, dengan total Rp53,17 triliun hingga triwulan II-2025, terdiri dari PMA Rp18,97 triliun dan PMDN Rp34,19 triliun,” jelasnya.

Dalam kesempatan pelepasan ekspor produk PT URC Indonesia ke Pantai Gading, Putu menyampaikan apresiasi. “Langkah ini menjadi contoh penting bagi perluasan pangsa pasar produk Indonesia dan menekankan pentingnya menjaga daya saing industri domestik agar mampu bersaing secara global,” katanya.

Ia menambahkan, “Indeks Kepercayaan Industri Agustus 2025 menunjukkan sektor makanan dan minuman berada pada level ekspansi dengan nilai 54,89. Ini mencerminkan iklim usaha kondusif dan adanya potensi pertumbuhan ke depan.”

Putu juga menegaskan komitmen pemerintah mengurangi ketergantungan bahan baku impor. “Tepung sagu bersifat nongluten dan berindeks glikemik rendah, sehingga berpotensi menjadi bahan pangan fungsional yang ramah bagi kelompok berkebutuhan khusus,” jelasnya.

Untuk mendukung itu, Kemenperin memberikan fasilitas berupa tax allowance, super deduction tax untuk riset produk, pelatihan SDM, serta program restrukturisasi mesin dan peralatan industri.

pasang iklan di sini