JAKARTA—Ungkapan pas untuk Mikayla Yazmine Thawys adalah Like Mother like daughter. Mahasiswa Program Studi Gizai Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia angkatan 2019 ini terinspirasi dengan geliat Sang Bunda ketika membuka usaha katering “Lunch box” untuk sebuah kementerian di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
Sang Bunda melanjutkan usaha dengan membuka kantin di salah satu gedung di Jalan Thamrin di kawasan Bekasi. Namun awal Januari 2022 usaha Sang Bunda terhenti.
Mikayla kemudian tergerak membuka usaha jualan cookies dengan harga jual Rp60 ribu toples dan ternyata sukses dan pernah mendapat pesanan hingga 200 toples.
“Saya juga buka usaha di kampus waktu masih offline dengan harga satuan Rp2.000 dan Rp3.000 per buah dan ternyata laris manis,” ujar warga Taman Rasuna ini ketika dihubungi Peluang, Jumat (14/1/22).
Kini ia memulai usaha baru lagi kali ini mengikuti program Jakpreneur. Produk yang dipilihnya ialah makananan yang terinspirasi dari kuliner Jepang yang disebutnya nasi selimut telur.
“Di Jepang nasinya adalah nasi goreng. Jadi saya sedikit modifikasi untuk lunch box menggunakan nasi putih saja dan ditambahkan ayam. Saya juga menawarkan menu Nasi Mandhi Ayam,” imbuh Mikayla.
Melalui Jakpreneur, dia akan mendapatkan pelatihan, dibantu surat izin dan pemasaran, dan diberikan peralatan dan modal.
“Insha Allah sesuai dengan kuliah saya di UI Prodi Gizi menambah bekal saya membuat bisnis F&B dengan beberapa menu dan bisa memiliki tempat usaha,” tutup dia.
Sebagai catatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat terobosan lewat program Jakpreneur dengan memberikan fasilitas pengembangan usaha melalui tahapan pendaftaran, pelatihan, pendampingan, fasilitasi perizinan, fasilitasi pemasaran, fasilitasi pelaporan keuangan, dan fasilitasi akses permodalan.
Hingga akhir 2021, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan sudah melatih 176.000 pelaku usaha di wilayahnya supaya mereka lebih kompetitif, dan sudah 155.000 didampingi secara langsung.
Program ini bukan saja memberdayakan pelaku UKM yang sudah ada yang umumnya dari kalangan usia setengah baya, tetapi sudah menciptakan para pengusaha dan calon pengusaha dari kalangan milenial ini (Irvan).





