JAKARTA—-Cirebon mempunyai kuliner tradisional yang disebut empal gentong. Dinamakan empal gentong, makanan berkuah ini adalah gulai berisi potongan daging sapi cincang yang diberi kuah santan dimasak menggunakan gentong.
Empal gentong biasanya dimakan dengan lontong atau nasi dan disajikan dengan cabai bubuk diduga meurpakan adaptasi masakan Timur Tengah yang sudah ada pada zaman Kesultanan Cirebon pada abad ke 18 atau 19.
Ika Zulfikar, karena bisnis mengharuskan dia bolak-balik Jakarta-Cirebon yang menjadikannya jatuh hati pada kuliner empal gentong.
Dia bersama istrinya sudah menjalankan bisnis kuliner tiga tahun lalu, namun baru setahun terakhir menjadikan empal gentong sebagai andalannya. Kuliner ini disajikan dengan daging suwir, dengan ciri khas menggunakan sambel seuhah dan varian tiga rasa, manis gurih, manis pedas dan super pedas. Brandnya juga dinamakan “Empal Suwir”.
Sebelumnya beberapa kali ada acara seperti pengajian, acara kantor, acara keluarga dan sebagainya, mereka membawakan menu empal.
“Alhamdulillah, respon para penikmatnya selalu suka dan beberapa tertarik untuk pesan. Dari situ kami coba untuk jualan juga empal gentong dan Alhamdulillah sampai sekarang ada saja pesanannya,” ujar Ika kepada Peluang melalui WhatsApp, Sabtu (20/6/20).
Dibantu istrinya, Ika membuat empal gentong mempertahankan cita rasa Cirebo dengan bumbu lengkap dan alami serta bahan bahan berkualitas membuat empal gentong direspon baik oleh pasar.
“Empal gentong yang kami jual adalah paket lengkap, terdiri dari empal gentong dengan isian daging sapi, paru dan kikil, ketupat, kerupuk udang, sambal cabai kering, bawang goreng, daun kucai dan jeruk nipis,” papar dia.
Berkah pada Masa Pandemi Covid-19
Sebetulnya pekerjaan utama Ika Zulfikar yang utama adalahbidang event organizer. Namun pandemi Covid-19 membuat kegiatan bisnis ini otomatis terhenti dan mengharuskan mereka di rumah saja. Ini pasutri jadi fokus berjualan kuliner.
“Saat Ramadan dan Idul Fitri lalu, Alhamdulillah pesanan empal suwir dan empal gentong sangat bagus, selama 1 bulan pesanan empal suwir sampai dengan 200 kilogram dan empal gentong terjual lebih dr 200 porsi,” terang Ika.
Walau setelah Idul Fitri pesanan menurun, namun pesanan masih terus berdatangan. Untuk empal suwir harga mulai Rp90 ribu dan empal gentong Rp35 ribu per porsi. Pemasaran dilakukan melalui media sosial hingga mulut ke mulut.
Ika dan istrinya menjalankan bisnis tanpa dibantu karyawan, hingga mulai belanja bahan, produksi, packaging, pengiriman hingga promoso dilakukan berdua.
“Karena anak-anak yang tadinya boarding school sekarang di rumah, mereka ikut membantu juga. Kami belum mempunyai karyawan tetap, saat order cukup banyak biasaanya kami minta bantuan kerabat tapi sifatnya temporer,” papar dia lagi.
Saat ini asutri ini sedang mempersiapkan kemasan baru yang lebih baik, higenis dan rencananya akan kerja sama dengan beberapa reseller untuk membantu pemasaran.
“Kami berharap saat new normal dan real normal nanti bisnis kuliner ini tetap berjalan dan bahkan yang sebelumnya bisnis ini hanya bisnis selingan akan kami dijadikan menjadi bisnis utama,” pungkasnya (Irvan Sjafari).