
PeluangNews, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Selasa. Penguatan indeks ditopang kenaikan harga komoditas logam di pasar global serta sentimen positif dari kebijakan insentif pemerintah.
Pada penutupan perdagangan, IHSG menguat 74,41 poin atau 0,84 persen ke level 8.933,61. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga naik 5,28 poin atau 0,61 persen ke posisi 865,05.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyampaikan tren positif harga komoditas logam serta stimulus pemerintah menjadi faktor utama yang menopang pergerakan indeks saham domestik. “Penguatan mayoritas harga komoditas logam dan hadirnya sejumlah insentif pemerintah memberikan sentimen positif bagi pasar,” ujarnya di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Dari sisi global, harga emas dan perak terpantau menguat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Venezuela. Selain isu geopolitik tersebut, pelaku pasar juga tengah mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting dari Eropa dan Amerika Serikat.
Dari Jerman, pasar menanti data penjualan ritel dan kondisi pasar tenaga kerja, sementara dari kawasan Euro akan dirilis data inflasi. Adapun dari Amerika Serikat, perhatian investor tertuju pada data ISM Services serta JOLTS Job Openings.
Sementara itu, dari dalam negeri, pemerintah terus menggulirkan berbagai kebijakan insentif guna menjaga daya beli masyarakat dan mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 105 Tahun 2025, pemerintah memberikan pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 sepanjang 2026 bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp10 juta per bulan di sektor-sektor tertentu, seperti industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, industri kulit dan turunannya, serta pariwisata.
Selain itu, lewat PMK Nomor 90 Tahun 2025, pemerintah menetapkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah sebesar 100 persen untuk pembelian rumah tapak dengan harga hingga Rp2 miliar dan rumah susun hingga Rp5 miliar sepanjang 2026. Pemerintah juga masih mengkaji pemberian insentif tambahan untuk sektor otomotif.
Sejak dibuka menguat, IHSG konsisten bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi pertama. Tren positif tersebut berlanjut pada sesi kedua perdagangan hingga akhir perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor mencatatkan penguatan, dengan sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 2,81 persen. Selanjutnya disusul sektor energi dan teknologi yang masing-masing naik 1,51 persen dan 1,28 persen. Di sisi lain, dua sektor mengalami pelemahan, yakni sektor transportasi dan logistik yang turun 1,40 persen serta sektor keuangan yang terkoreksi 0,12 persen.
Saham-saham yang mencatatkan kenaikan tertinggi antara lain BIPI, GSMF, INPC, PADI, dan NICL. Sementara itu, saham yang mengalami penurunan terdalam di antaranya KLAS, CPRO, YOII, PNLF, dan MBSS.
Aktivitas perdagangan saham terbilang ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 4.369.030 kali. Sebanyak 67,93 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp34,16 triliun. Tercatat 428 saham menguat, 256 saham melemah, dan 127 saham stagnan.
Pergerakan positif juga terjadi di bursa saham regional Asia. Indeks Nikkei Jepang menguat 685,30 poin atau 1,32 persen ke level 52.518,10. Indeks Hang Seng naik 363,20 poin atau 1,38 persen ke 26.710,44, indeks Shanghai menguat 60,25 poin atau 1,50 persen ke 4.083,66, dan indeks Strait Times bertambah 59,47 poin atau 1,27 persen ke posisi 4.739,97. (Aji)
Baca Juga: IHSG Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Ditopang Surplus Dagang dan Inflasi Terkendali








