YOGYAKARTA—Kesadaran untuk membuka kembali ingatan pada kekayaan botani bumi pertiwi, disertai niat menciptakan produk yang ramah lingkungan menginspirasi dan membuat Dini Wiradisastra memutuskan mendirikan House of Distraw pada 12 Maret 2017.
Lokasi usahanya berbasis di Pogung Baru, Pogung Kidul, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
House of Distraw membuat produk fesyen dan tas yang dibuat di antaranya tahapan proses, dengan sesedikit mungkin mencederai lingkungan.
“Di antaranya dengan teknik ecoprint (merekam motif dan warna pada kain menggunakan bahan alam), kami me-reintroduksi ragam dedaunan yang kerap kali belum disadari keindahannya,” ungkap perempuan kelahiran Kuningan, 12 Maret 1970.
Lanjut perempuan yang pernah bekerja di sebuah bank swasta selama sepuluh tahun ini, bahan pewarna alam yang digunakan antara lain kayu dan kulit kayu Akasia (Acacia leucopholea), Daun Indigofera/Daun Tom (Indigofera Tinctoria), Kulit kayu Jambal (Peltophorum Pterocarpum), Kulit buah Jolawe (Elaocorpus folium), Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni), Kayu Merbau (Intsia), Kayu Tegeran (Cudrania javanensis) hingga Kulit Kayu Tingi (Ceriops condolleana)
Alumni Fakultas Ekonomi UII ini percaya, produk ramah lingkungan mesti aman bagi pencipta, perajin, dan penggunanya. Jejak kolaborasi dan penjelajahan untuk berbagi ilmu dan kemampuan pun tercetak di setiap langkah kami. Setiap produk seakan bercerita dan mengabarkan tentang berbagi dan cara mencintai bumi dengan sederhana namun bermakna.
Setapak demi setapak, visi “Membuat produk berkelanjutan yang diterima oleh Indonesia dan dunia” perlahan terwujud. Tahun 2018, House of Distraw masuk dalam daftar 50 produk natural dan batik yang berpengaruh di Rusia, versi Vdokh Magazine
Dini mengaku merancang sendiri produknya, namun tetap dalam perencanaan bisnis yang dievaluasi setiap akhir tahun dalam evaluasi tahunan House of Distraw. Setiap peluncuran produk didahului dengan riset pasar untuk menentukan konsumen yang akan dituju.
Diminati Pembeli dari Mancanegara
Menurut Dini, produk berkelanjutan terkait erat dengan pendidikan dan tingkat kemapanan finansial konsumen. Pada awal 2017, memang rata-rata pembeli adalah ekspatriat di Indonesia, diaspora atau kelas A di Indonesia.
Namun seiring dengan meluasnya gaya hidup hijau dan pengetahuan tentang produk berkelanjutan, perlahan pasti produk House of Distraw semakin diminati. Ditambah dengan dorongan dari BI KPW Yogyakarta untuk masuk B to B dan B to G, ternyata beberapa perusahaan papan atas dan Kementerian sangat perhatian dengan produk berkelanjutan.
Produk HoD telah diekspor ke luar negeri meskipun dalam skala kecil dan langsung B to C namun memberikan dampak signifikan terhadap branding usaha dan omzet.
“Beberapa pembeli luar negeri datang karena pameran luar negeri yang dilakukan oleh House of Distraw dan Trade Expo Indonesia. Beberapa negosiasi dengan pembeli luar negeri sedang diulang karena sempat terhenti akibat dampak pandemi Covid-19,” ungkapnya.
Produk House of Distraw sudah melanglangbuana ke sejumlah negara pasar luar negeri, Belanda, Rusia, Uzbekistan, USA, Australia, Singapura, Italia, Perancis, Malaysia, Australia, Papua Nugini, Saudi Arabia
Produk dengan harga berupa masker seharga Rp35 ribu dan yang tertinggi adalah ecoprint kain sutera. Sementara produk rata-rata dibandroll dengan harga Rp250 ribu.
Terdampak Pandemi
Kapasitas produksi meningkat rata-rata per tahun dari 50 produk per bulan pada 2017 menjadi 300 produk pada 2018, 800 produk pada 2019, 1.000 poduk pada 2020 dan pada 2021 kapasitasnya meningkat menjadi 1.250 produk per bulan.
Omzet House of Distraw pada 2017 berkisar Rp18.350 ribu per bulan meningkat menjadi Rp44, 550 juta pada 2018, Rp62, 4 juta pada 2019 dan pada 2020 anjlok menjadi Rp19,990 juta karena terimbas pandemi.
“Pandemi berdampak sangat besar bagi House of Distraw, pada tiga bulan awal, tidak ada penjualan dan tidak tahu harus berbuat apa,” aku Dini.
Namun dia bersyukur pemerintah mendorong UMKM untuk memproduksi masker dan APD, pesanan APD datang dari KB Antara dan masker datang dari UNISBANK.
“Pada Juni 2020, kami mulai menggeliat dengan penjualan yang ada di Bandara YIA, namun yang terutama adalah sudah mulai ada pesanan souvenir dari Bank Indonesia dan beberapa lembaga dan perusahaan lain,” paparnya.
Ke depan, menurut pihaknya tentu akan memberikan dampak signifikan bagi UMKM. Pada 2020 Dini dan timnya mendifinisikan ulang usahanya, mengganti rencana bisnis, memperbaiki internal usaha, merubah timeline usaha.
“Semua dilakukan agar usaha tetap berjalan, bisa berkembang dan maju semakin besar,” tutupnya (Irvan).





