hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Fokus  

Hari Raya Idulfitri Pada Zaman Rasulullah SAW

Rasullullah
Ilustrasi : Foto/dok.ist

PeluangNews, Jakarta – Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 Masehi sebentar lagi. Umat Islam kini tengah siap menyambut hari raya itu dengan penuh kegembiraan.

Hari Raya Idulfitri adalah simbol kemenangan umat Islam dalam melawan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Di Indonesia, Idulfitri adalah hari raya terbesar dan termeriah bagi umat Islam. Hal ini sedikit berbeda dengan sebagian besar negara-negara Islam lainnya, dimana hari perayaan terbesar adalah Idul Adha.

Sebagai hari raya terbesar, umat Islam Indonesia menggelar berbagai macam perayaan, seperti takbir keliling, misalnya. Di samping itu, Idulfitri juga telah membentuk tradisi dan budaya bagi muslim Indonesia. Yaitu mudik atau pulang kampung untuk bersilaturahim dengan handai taulan.

Lalu, bagaimana Rasulullah Saw merayakan hari raya yang jatuh pada 1 Syawal itu? Apa saja yang dilakukan Rasulullah Saw di hari kemenangan umat Islam itu?

Merujuk buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, Rasulullah Saw dan umat Islam pertama kali merayakan Idulfitri pada tahun kedua Hijriah (624 M) atau usai Perang Badar.

Dari beberapa riwayat disebutkan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah Saw untuk menyambut dan merayakan Idulfitri. Pertama, takbir.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadan hingga pagi hari satu Syawal. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 185:

“Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur.”

Kedua, memakai pakaian terbaik. Pada Hari Raya Idulfitri, Rasulullah mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya.

Kisah ini terekam dalam hadist yang diriwayatkan Al-Hakim. Ketiga, makan sebelum salat Idulfitri. Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah Hari Raya Idulfitri.

Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idulfitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang.

Sebelum Salat Idulfitri, Rasulullah Saw biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: “Pada waktu Idulfitri Rasulullah Saw tidak berangkat ke tempat salat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Keempat, Rasulullah menunaikan Salat Idulfitri bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya–baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak.

Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya Salat Idulfitri. Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan Salat Idulfitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter.

Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.

Kelima, mendatangi tempat keramaian. Suatu ketika saat Hari Raya Idulfitri, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng.

Bahkan saking asyiknya, sebagaimana hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Aisyah sampai menjenguk kan (memunculkan) kepala di atas bahu Rasulullah sehingga dia bisa menyaksikan permainan itu dari atas bahu Rasulullah dengan puas.

Keenam, mengunjungi rumah sahabat. Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat Hari Raya Idulfitri sudah ada sejak zaman Rasulullah.

Ketika Idulfitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya.

Pada kesempatan ini, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain. Sama seperti yang dilakukan umat Islam saat ini. Datang ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan. [berbagai sumber]. ***

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate