hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Harga Minyak Goreng Sawit Ampun-ampunan

Naiknya harga kelapa sawit berdampak positif dalam hal kinerja ekspor. Masalah pada produk turunannya, yakni minyak goreng sawit. Jawabannya, operasi pasar di beberapa kota hingga akhir tahun: 11 juta liter dengan harga Rp14.000.

HARGA minyak goreng sawit terus merangkak naik beberapa waktu belakangan. Untuk migor jenis curah, misalnya, berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga pada 1 November lalu masih Rp16.750 per kg sudah naik menjadi Rp17.350. Di DKI Jakarta sudah tembus Rp19.450. Bahkan di tingkat ritel modern harga promonya masih Rp15.000. Kejadian ini cukup aneh mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak terbesar dunia.

Kenaikan harga tersebut, kata Mendag Muhammad Lutfi, merupakan konsekuensi atas meroketnya harga komoditas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). CPO merupakan bahan baku produk migor sawit. Naiknya harga kelapa sawit tentu saja berdampak positif dalam hal kinerja ekspor. Meski begitu, di sisi lain, ada permasalahan pada produk turunannya, yakni migor sawit—yang harganya otomatis turut ikut naik.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, menyebut kenaikan harga migor karena turunnya pasokan dunia. Di Kanada dan Argentina yang merupakan pemasok Canola Oil terjadi gangguan panen, sehingga produksinya turun sekitar 7%. Produksi CPO Malaysia turun sekitar 8%, gegara kekurangan tenaga kerja imbas pandemi Covid-19. Beberapa negara, India, Cina, Eropa, mengalihkan ke bioenergi termasuk biodieselnya.

Pemerintah hendaknya bisa memberi perhatian serius terkait kondisi ini. Kendalikan para pabrik kelapa sawit agar mereka tak lebih mengutamakan menjual hasil kelapa sawit ke luar negeri ketimbang untuk kebutuhan domestik. Seharusnya, kata Andrian Lame Muhar dari Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), pemerintah sebagai regulator membatasi ruang gerak pengusaha-pengusaha ini. Jika keinginan mengekspor pokok permasalahannya, dengan akibat kebutuhan dalam negeri tidak terpenuhi, pemerintah harus mengintervensi langsung lewat kebijakan.

Alhasil, Mendag M Lutfi menyatakan 11 juta liter migor akan digelontorkan ke pasar demi menahan kenaikan harga yang tak terbendung. Menteri M Lutfi menyatakan sudah memanggil industri minyak goreng untuk mengatasi kenaikan harga yang terjadi belakangan ini. Dari pertemuan tersebut, ia berhasil memperoleh kepastian dari industri bahwa pelaku industri akan menggelontorkan 11 juta liter minyak goreng demi meredam kenaikan harga.

Lurfi menyatakan minyak goreng tersebut akan dijual dengan harga Rp14 ribu per liter. Kami sepakat 11 juta liter dijual dengan harga Rp14 ribu/liter melalui kerja sama (industri) dengan Aprindo (pengusaha ritel). Ini bukan inisiasi pemerintah, kami hanya pertemukan penjual dan pembeli,” kata Lutfi. Dari pemantauan harga sebulan lebih, demi menekan panas harga migor, pemerintah akan menggelontorkan 11 juta liter migor dalam bentuk kemasan sederhana. Harganya dipatok Rp14.000/liter. Masyarakat hanya bisa membelinya di gerai departemen store dan minimarket.

Kementerian Perdagangan mengaku sudah bekerja sama dengan Asosiasi Peritel untuk mendistribusikan migor murah ke 45.000 gerai nasional. Menteri Muhammad Lutfi menyebut,  penjualan migor murah ini terbatas. Satu orang hanya boleh membeli satu kemasan dalam satu hari. Rencananya, hingga akhir tahun, migor murah ini akan disebar ke berbagai kota besar di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Medan, Banda Aceh, Padang, Jambi, Pekanbaru, Semarang, dan Surabaya.

Jangankan untuk menjangkau mayoritas masyarakat di pedesaan, mereka yang mukim di kota-kota yang disebutkan itu saja bakal saling berebut membentuk antrean.●

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate