BANDUNG—Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad Arief Anshory Yusuf meminta pemulihan ekonomi setelah krisis akibat pandemi Covid-19 jangan hanya sekadar persentase pertumbuhan secara periodik.
“Pemulihan ekonomi harus berkualitas dengan mengutamakan pertumbuhan berkelanjutan. Prospek pertumbuhan ekonomi sebaiknya tidak hanya dilihat untuk tahun ini atau depan, tetapi harus dilihat dalam jangka Panjang,” ujar Arief dalam dalam sarasehan virtual yang digelar Unpad, IKA Unpad, dan Deloitte dengan tema Pemulihan Ekonomi pasca-Covid 19, Membangun Ekonomi Indonesia yang Adaptif dan Resiliens.
Dia menyatakan, sejumlah tantangan di masa pemulihan juga masih mengadang, terutama karena masih lebarnya kesenjangan antara kaum miskin dan golongan kaya. Untuk itu, perlu strategi khusus dalam mengembalikan produk domestik bruto (PDB) ke tingkat sebelum krisis.
Pandemi telah menimbulkan persoalan, karena menambah ketimpangan antara kaum kaya dan kaum miskin. Di masa pemulihan, golongan kaya mampu pulih lebih cepat dibanding kaum miskin, sehingga menjadikan persoalan baru yang harus dihadapi.
“Kunci pemulihan ini adalah bagaimana pemulihan tepat. Bagaimana kita bisa kembali ke level PDB sebelum pabdemi, bukan pada persentasenya,” ucap Arief.
Menurut dia, berdasarkan kajian yang dilakukannya, setidaknya perlu waktu 3,5 tahun untuk kembali ke level tingkat PDB yang sama seperti sebelum krisis. Namun demikian, dia tidak menyangkal jika banyak kajian yang menyatakan, bantuan sosial yang diberikan pemerintah selama pandemi efektif menstimulus ekonomi.
“Yang dikatakan pemulihan itu, jika beberapa orang yang kehilangan pekerjaannya mendapat pekerjaannya kembali dan membuka lapangan pekerjaan untuk mereka yang belum mendaparkannya,” tegas dia.
Sarasehan dibuka oleh Rektor Unpad Rina Indiastuti itu, hadir narasumber dari berbagai kalangan di antaranya Ketua Ika Unpad Irawati Hermawan, Erlangga Soeria Atmadja, Deloitte Indonesia Director 3, Guru Besar FEB Unpad Prof Martha Fani, dan Guru Besar FPIK Zuzy Anna, Prof. Ahmad M. Ramli, Guru Besar Fakultas Hukum Unpad.
Hadir pula dari kalangan dunia usaha yakni Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, Dirut MNC Sky Vision Tbk Hari Susanto, dan Direktur Human Capital PT Aviasi Pariwisata Indonesia Herdy Harman.
Sementara itu, Irawati Hermawan mengatakan, pemulihan ekonomi bisa difokuskan pada dua indikator. Pertama, di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif. Kedua sektor ini di masa pandemi memiliki kekuatan yang luar biasa dan bisa mewarnai kegiatan ekonomi.
Dia mengingatkan, UMKM sangat besar di Indonesia. Diharapkan ada dukungan pemerintah untuk UMKM, terlebih dalam hal pendanaaan serta literasi digital.
“Dengan begitu, UMKM dan ekonomi kreatif bisa menjadi kekuatan untuk mengangkat perekonomian kita,” pungkasnya.








