Keberhasilan mengembang-kan sejumlah anak usaha berbasis anggota menjadikan Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air patut jadi role model perkoperasian di Provinsi NusaTenggara Timur (NTT). Sebaran anak usaha seperti mini market, pabrik minyak kelapa, pabrik garam, percetakan, wisata pantai membuktikan bahwa Kopdit tidak melulu sibuk dengan urusan simpan pinjam. Koperasi seyogyanya menjadi sentra di tengah lalu lintas perekonomian rakyat, terlebih jika merujuk lagi pada pengakuan pemerintah bahwa, perkoperasian NTT terbaik secara nasional dengan lebih dari 50 persen masyarakatnya adalah anggota koperasi.
Saat beraudiensi dengan pengurus Kopdit Pintu Air, Selasa (18/1/2022), Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), mengingatkan lagi agar koperasi terus mengembangkan usahanya yang dapat menyasar sektor riil. Dia mengapresiasi Kopdit Pintu Air yang dinilai berhasil kembangka usaha sektor riil. “Sangat berat mendorong sektor swasta bergerak ke sektor riil di NTT. Terima kasih kepada Pintu Air dan Kopdit lainnya yang telah lakukan ini dan sangat membantu pemerintah,” ujarnya. Audiensi yang dipimpin Ketua Pengurus Jakobus Jano terkait permohonan kesediaan Gubernur NTT meresmikan SPBU Nita milik Kopdit Pintu Air yang dijadwal akhir Februari ini. Mengacu pada sejumlah usaha yang berhasil dikembangkan, pada kesempatan itu VBL meminta Pintu Air menjajaki bisnis budidaya bayi lobster atau benur. Dikatakan, NTT kaya dengan benur dan jika dikelola profesional sangat membantu perekonomian masyarakat.
“Kita akan datangkan orang-orang yang terampil untuk melatih anggota Kopdit Pintu Air dan Kopdit lainnya supaya mampu lakukan budidaya benur. Untuk pakan bayi lobster ini, kita bisa budidayakan keong atau siput yang umumnya dianggap sebagai hama di sawah. Kita sedang kembangkan ini di Rote Ndao. Kita bisa jadi salah satu daerah penghasil lobster terbesar, “ujarnya.
Pertumbuhan koperasi yang subur di NTT seharusnya dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai kantong-kantong usaha rakyat. Hal itu diakui VBL yang menilai keberadaan koperasi lebih cocok ketimbang Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Bahkan, timpalnya, hampir tidak ada BUMDes yang punya prestasi gemilang dan luar biasa maju di NTT. Dia mengatakan sudah mengusulkan ke Pemerintah Pusat agar mengganti Bumdes dengan Koperasi. “Karena kita berhasil di NTT dengan koperasi. Atau cara lainnya, koperasi memiliki saham terbesar di Bumdes sehingga bisa berkembang dengan baik,” ungkapnya.
Penawaran Gubernur VBL untuk jajaki budidaya benur, mendapat respon positif dari pengurus Kopdit Pintu Air. “Ini merupakan peluang usaha sektor riil baru yang patut kita pelajari dengan cermat,” ujarnya seraya menambahkan pengurus dan manajemen Kopdit Pintu Air akan membahas peluang yang baik itu lebih lanjut. Sebelumnya, VBL berharap koperasi dapat menjadi mitra pemerintah di sektor riil lainnya, yaitu pakan ternak karena potensi pasarnya senilai Rp1,1 triliun yang keluar dari NTT setiap tahun. (Irm)





