JAKARTA—Pada masa Penjajahan Belanda Pulau Sabira, pulau yang terjauh di bagian utara Kepulauan Seribu dijuluki sebagai Noord Watcher atau si Jaga Utara. Karena di pulau seluas 8, 82 hektar ini terdapat satu-satunya mercusuar di Kepulauan Seribu.
Pulau berpenduduk sekitar 506 jiwa ini awalnya hanya bisa diakses seminggu sekali dengan delapan jam perjalanan dengan kapal dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta. Namun di bawah Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengadakan kapal cepat yang memperpendek hanya 3,5 jam dengan waktu operasi tiga kali seminggu, Senin, Rabu dan Sabtu.
Dampaknya ialah kegiatan ekonomi, terutama skala mikro menjadi menggeliat. Mereka bisa mengirim produk mereka ke Jakarta dengan frekuensi yang lebih sering.
Di antara para pelaku UKM itu terdapat nama Sumila, 37 tahun yang mengelola ikan selar menjadi ikan asin belah dan kerupuk.
“Dulu saya pengasin ikan utuh ,ikan selar asli di rendam semalam dan besoknya baru di jemur,itu pasarannya sampai ke Bogor, Lampung. Namun kemudian saya bergabung dengan sau kelompok yang terdiri dari sepuluh ibu rumah tangga mengolahnya menjadi ikan asin belah dan kerupuk,” ujar perempuan kelahiran 1984 ini ketika dihubungi Peluang melalui whatsapp, Minggu (12/12/21).
Pada 2015, perempuan yang hanya tamat SMP ini memutuskan untuk mandiri dan mendirikan usaha sendiri. Dia mengemas ikan asin belah itu dalam kantong plastik yang terdiri dari 12-14 buah pot Untuk pemasaran kita ada dari wisatawan yg ke pulau untuk oleh-olh dan ada juga yg dari Jakarta psn dititip di kapal dishub.
Sumila mengaku produksi ikan asin belah dan kerupuknya tidak menentu, bergantung hasil tangkapan nelayan. Terkadang dalam sebulan bisa produksi banyak dan terkadang kurang. Omzetnya pun terkadang banyak, terkadang juga tidak memadai.
“Pada bulan lalu (November), saya membuat kerumuk seratus 150 bungkus dan mengolah ikan aisn belah hingga 35 kilogram dengan harga jual rata-rata Rp10 ribu per kemasan,” ungkap istri seorang nelayan ini.
Hanya saja menurut Sumila pemasaran masih banyak diserap wisatawan yang datang atau warga lokal untuk oleh-oleh saudaranya. Bahkan kalau nelayan tidka kelaut, produksinya habis diserap warga pulau.
Sumila mengaku sulit mengembangkan pemasaran untuk produknya ke Jakarta, sebab di pulau itu belum ada perusahaan jasa kurir dan internetnya pun kadang hilang. Sekalipun dia sudha mahir memasarkan produk secara daring karena dia juga punya bisnis daring.
“Ada juga kendala cuaca buruk yang membuat kapal tidak sampai ke Sabira,” ucapnya seraya mengatakan masih mengandalkan kapal dishub atau nelayan kalau ada pemesan dari Jakarta.
Bahkan para pelaku UKM dan warga masih mengandalkan perahu nelayan yang ke Jakarta untuk muat barang sembako atau lain sebagainya
“Kita numpang alamat di Jakarta dan paket dikirim sama kapal nelayan sesudah sampai di pulau kita tebus per paket Rp10 ribu,” imbuhnya.
Sumila mengaku sangat berharap namun memperluas jangkauan para. Untuk itu dibutuhkan permodalan hingga peralatan. Para pelaku UKM membuat kerupuk masih manual dan kalau bisa adanya bantuan seperti pemotong kerupuk atau pisau yang layak.
Menurut dia potensi Pulau Sabira masih sangat besar. Mengingat wilayah ini jadi tempat lokasi snorkeling yang banyak mendatangkan wisatawan.
Sumila juga merasa terbantu dengan adanya program Jakpreneur yang telah diikutinya sejak tiga tahun lalu. Hasilnya produknya dikenal oleh berbagai lembaga di antaranya BPK (Van).





