hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Gejolak Harga Sembako di Hari-hari Nataru

Jelang Old and New, harga telur ayam boiler meroket. Cabai juga naik 50 persen lebih. Beras, minyak goreng dan sayuran pun kompak melejit. Padahal, daya beli masyarakat masih tiarap. Terbantu kenaikan UMP? Ahh, angkanya cuma pelipur lara.

JELANG Natal, permintaan telur naik 15%. Di masa libur Nataru, harga telur ayam broiler melonjak. Dalam tiga bulan terakhir, fluktuasi harga telur sangat tajam. Di awal Oktober, anjlok hingga Rp15.500/kg. Peternak menjerit. Harga mulai membaik awal November, semenjak penurunan level PPKM dan bansos pemerintah berjalan. Di beberapa pasar tradisional harganya Rp33.000/kg. Bahkan Rp49.000 di salah satu marketplace. Kenaikan harga telur itu terjadi secara nasional.

Ada beberapa faktor penyebab harga telur ayam di pasar melonjak. Di antaranya, harga telur yang sudah naik di peternak. Sepekan sebelum Natal, kata Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Indonesia, Alvino Antonio, harga telur di kisaran Rp29.000/kg dari peternaknya di Blitar, Jateng. Selain itu, banyak peternak mandiri mengurangi jumlah ayam indukan. Pilihan afkir dini ini sudah berlangsung secara bertahap sejak Juli 2021. Penyebabnya, harga jagung mahal dan pasokannya sulit.

Jagung merupakan komponen utama untuk pakan ayam petelur. Harga jagung untuk pakan ternak naik Rp2.000/kg hingga Rp3.000/kg. Saat ini harga pakan pun menembus Rp7.000. Padahal, kata Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional, Musbar Mesdi, peternak telah meminta pemerintah melakukan berbagai kebijakan untuk menstabilkan harga jagung. Misalnya, dengan operasi pasar. Peternak juga mendesak pemerintah menjaga fluktuasi harga jagung di posisi Rp5.000–4.500/kg.

Di Indonesia Timur, harga pokok produksi sempat naik Rp3.000/kg di level peternak, dari semula Rp27-28 ribu,” ujar Musbar. Dengan harga jagung itu, harga pakan pasti akan terkoreksi. Persoalan harga jagung telah disuarakan oleh peternak sejak awal tahun. Selama pandemi Covid-19, harganya terus meningkat secara konstan. Naiknya harga jagung karena gagal panen; curah hujan tinggi sehingga produktivitas di tingkat petani rendah. Sekarang sudah di posisi Rp6.000 dari aturannya RP4.000,” kata Musbar.

Persis medio tahun lalu, harga telur jatuh selama 3 bulanan. Peternak mandiri mau tak mau mengurangi jumlah ternaknya. Ayam indukan banyak yang dijual karena harga daging ayam lebih baik ketimbang tekor ngasih makannya. Harga telur di peternak saat itu di kisaran 13.500/kg. Harga pakan yang sangat mahal musykil nutup biaya operasional. “Dengan harga Desember lalu, mereka berusaha nombokin tekor yang sebelumnya. Belum pulih, tapi paling tidak lumayanlah ada nafas,” kata Alvino.

“Soal jagung mahal dan langka bukan kasus pertama. Sudah terjadi beberapa kali. Misalnya di bulan Agustus ke atas, September, Oktober sampai Desember. Mestinya antisipasinya pemerintah impor. Hanya saja, impor ya jangan di saat panen raya,” ujar Alvino Antonio. Di lapangan, ketika harga jatuh, pemerintah kesulitan menyerap telur, sehingga peternak rugi. Saat produksinya terbatas, dan peminat harga tinggi dari peternak naik, pemerintah malah melakukan operasi pasar.

Para peternak hanya menginginkan harga yang wajar. Sebagaimana disampaikan Alvino, “Kalau gini-gini terus (ditekan saat harga naik, tapi lepas tangan saat harga jatuh), dari mana kami dapat untung? Dengan jual harga segitu kami kan gak tenang kalau nanti ada sidak pasar. “Kami seperti dikejar-kejar, padahal dengan harga saat ini kami tengah berusaha memperbaiki (bisnis). Kami berharap harga telur bisa stabil di Rp20.000/kg dari peternak, sehingga konsumen bisa membelinya pada kisaran Rp24.000/kg,”●(Zian)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate