JAKARTA—Prediksi Bank Indonesia (BI) bahwa pada Februari 2022 terjadi deflasi sekitar 0.05% beberapa waktu lalu, tak jauh berbeda dengan rilis Badan Pusat Statistik pada Selasa 1 Maret 2022 ini.
BPS mengumumkan pada Februari 2022 terjadi deflasi sebesar 0,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,24.
Dari 90 kota IHK, 53 kota mengalami deflasi dan 37 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 2,08 persen dengan IHK sebesar 109,20.
Deflasi yang terendah terjadi di Palembang, Palangkaraya, dan Tarakan masing-masing sebesar 0,01 persen dengan IHK masing-masing sebesar 107,54; 108,50; dan 108,41.
Sementara inflasi tertinggi terjadi di Kupang sebesar 0,65 persen dengan IHK sebesar 107,17 dan terendah terjadi di Tanjung Selor sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 106,29.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa mengatakan penyumbang deflasi utama pada Februari 2022 adalah penurunan harga komoditas minyak goreng, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Hal ini serupa dengan yang diungkapkan rilis Bank Indonesia.
“Tingkat inflasi pada Januari hingga Februari 2022 sebesar 0,54% dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 2,06%,” ujar Setianto dalam jumpa pers daring.
Sementara Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meningatkan deflasi selama Februari semu, sebab harga komoditas berisiko mengalami kenaikan pada beberapa bulan mendatang. Lonjakan harga komoditas terjadi akibat operasi militer Rusia ke Ukraina.
Inflasi tinggi di Indonesia diproyeksikan terjadi pada April atau menjelang Ramadan. Produsen menunggu untuk melakukan penyesuaian harga jual di level konsumen pada April saat penyesuaian tarif PPN menjadi 11 persen atau menjelang Ramadan.








