BANGKALAN—Daun Agel adalah serat bagian dalam dari tanaman Palem. Orang Madura menjadikannya serat ini sebagai tali untuk kapal nelayannya maupun mengikat sapi. Pada 2008, Faiqotul Himmah terinspirasi membuat serat ini menjadi bahan kerajinan mulai dari dompet, hingga tas.
Hanya saja ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Melajes, Kabupaten Bangkalan, Madura ini menggunakan tali itu dalam bentuk kecil dan menjadikan bahan rajutan. Hasilnya? Produknya tidak saja diminati dalam negeri tetapi juga ekspatriat yang berkunjung.
Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya ini kemudian benar-benar terjun ke wirausaha dengan CV Daun Agel dengan brand “Daun Agel Handycraft”.
Kini sudah memperoduksi 100 item, mulai dari dompet dengan harga Rp70 ribu, tas tangan seharga Rp200 ribuan hingga karpet yang dibandroll dengan harga Rp1 juta. Sekalipun produksinya masih menggunakan sistem orderan karena membuatnya lama.
“Sebelum pandemi omzet saya mencapai Rp75 juta hingga Rp100 juta. Saya sudah ekspor ke mancanegara seperti ke Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, India hingga Yunani. Boleh dibilang sekira separuh omzet saya adalah ekspor,” ujar Faiqotul ketika dihubungi Peluang, Rabu (10/3/21).
Hanya perempuan kelahiran 1974 ini mengakui seperti sejumlah usaha lain, dirinya juga terdampak pandemi Covid-19. Omzetnya terpangkas hingga separuh. Meskipun demikian dirinya tidak sampai melakukan PHK terhadap 25 tenaga kerjanya.
“Kami bertahan karena tertolong ekspor ternyata masih berlangsung,” ucap dia.
Faiqotul menyampaikan, dirinya menjadi binaan Bank Indonesia. Oleh pihak BI, dia tidak saja diikutsertakan dalam pameran, tetapi dibuatkan katalog hingga menjadi barang branded.
“Ke depan saya akan memperluas produk dengan bahan pelepah pisang, hingga jasa dekorasi rumah dengan menggunakan produk yang semua bahannya alami,” tutup dia (Van).








