hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Export Coaching Program Dorong UMKM Jadi Eksportir Mandiri

Menteri Perdagangan Budi Santoso saat mengunjungi CV Berkah Pangan Nusantara dan PT Andara Cantika Indonesia di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada Jumat (10/4).

PeluangNews, Sidoarjo – Kementerian Perdagangan semakin mengintensifkan langkah strategis dalam mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas hingga mampu bersaing di pasar global.

Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Perdagangan Budi Santoso saat mengunjungi CV Berkah Pangan Nusantara dan PT Andara Cantika Indonesia di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada Jumat (10/4). Kedua UMKM tersebut merupakan alumni Export Coaching Program (ECP) Kemendag yang dirancang untuk mencetak eksportir baru.

“Kunjungan kali ini untuk memberikan dukungan sekaligus melihat langsung kemampuan UMKM hasil program pendampingan ekspor terpadu Kemendag. Kami akan terus memperluas jangkauan program melalui penguatan desain kemasan agar sesuai dengan standar negara tujuan, strategi penjenamaan, kemitraan ritel modern, serta ekspansi pasar luar negeri,” kata Mendag Busan.

Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Mardyana Listyowati dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal S. Shofwan.

CV Berkah Pangan Nusantara menjadi contoh nyata transformasi UMKM lokal menuju pasar global. UMKM asal Sidoarjo yang bergerak di industri makanan olahan ini mengandalkan produk tepung bumbu siap pakai dengan merek Syaza, Syakura, Geprek Crispy, dan Dapoerkoe.

Komitmen terhadap kualitas ditunjukkan melalui kepemilikan berbagai sertifikasi, mulai dari Halal, Good Manufacturing Practice (GMP), hingga Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Dari sisi pemasaran, perusahaan ini awalnya hanya menjangkau pasar lokal di Jawa Timur. Kini, jangkauannya meluas ke Jawa Tengah, Jabodetabek, hingga Makassar. Bahkan, CV Berkah Pangan Nusantara tengah bersiap melakukan ekspor perdana ke Nigeria setelah menjalin kontrak dengan buyer melalui Trade Expo Indonesia (TEI) dan ECP. Saat ini, perusahaan tengah menyelesaikan proses perizinan di Nigeria serta menjajaki peluang ekspansi ke Malaysia.

Pemilik CV Berkah Pangan Nusantara, Ryza Sulistyanawati, mengaku program ECP memberikan pemahaman baru terkait mekanisme ekspor sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk menembus pasar global.

“Saya jadi tahu cara bertransaksi dan negosiasi dengan buyer. Adanya pendampingan dan fasilitasi dari Atase Perdagangan RI dan Indonesian Trade Promotion Center dalam verifikasi dan pencarian buyer membuat saya yakin perusahaan kami dapat memperluas pasar,” ujar Ryza.

Keberhasilan serupa juga ditunjukkan PT Andara Cantika Indonesia, alumni ECP tahun 2023. UMKM yang bergerak di bidang parfum dan produk perawatan kulit ini telah menembus pasar ekspor ke Brunei Darussalam dan Singapura.

Perusahaan tersebut kini tengah membidik Nigeria sebagai tujuan ekspor berikutnya. Langkah ini didukung berbagai fasilitas dari Kemendag, mulai dari pelatihan ECP hingga partisipasi dalam pameran internasional seperti TEI dan Malaysia International Halal Showcase (MIHAS).

CEO PT Andara Cantika Indonesia, Fanny Lia Sutanto, menyampaikan bahwa ECP memberikan pemahaman komprehensif terkait ekspor, termasuk strategi negosiasi dan mitigasi risiko.

“Saya juga mengikuti business matching dan diajarkan risiko-risiko ekspor, sehingga bisa mengantisipasi dan meminimalisasi potensi kegagalan saat pengiriman,” kata Fanny.

Mendag Busan menegaskan, keberhasilan kedua UMKM tersebut menjadi bukti konkret efektivitas program pemerintah dalam mendorong UMKM menjadi eksportir mandiri.

“Melalui ECP, pelaku usaha tidak hanya dibekali pemahaman teknis mengenai ekspor, tetapi juga difasilitasi dalam perluasan akses pasar, promosi internasional, hingga pertemuan langsung dengan buyer potensial,” ujarnya.

Selain ECP, Kemendag juga menjalankan program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor). Program ini memfasilitasi pelaku UMKM mengikuti business matching secara rutin, mulai dari presentasi produk, pencarian buyer potensial, hingga pertemuan lanjutan secara daring.

Sepanjang 2025, program tersebut mencatat nilai transaksi business matching mencapai USD 134 juta, dengan sekitar 70 persen pelaku merupakan eksportir pemula.

pasang iklan di sini
octa vaganza