TANGSEL—Sepintas tidak terlalu tampak perbedaan antara mi (mie) yamin dan mi ayam. Tapi kalau diperhatikan lebih sekasama mi yamin memiliki warna yang kecoklatan karena memiliki campuran kecap manis di dalamnya.
Bentuk minya lebih kecil dan tipis tapi teksturnya tetap kenyal meski tak sekenyal mi ayam. Kebalikan dari mie ayam, taburan ayam pada mie yamin justru memiliki warna yang putih pucat karena tidak dimasak dengan bumbu kecap.
Meskipun belum ada sumber akurat yang menjelaskan bagaimana sejarahnya, api mi yamin melekat dengan nama Kota Bandung, seperti halnya kuliner siomay, yang merupakan akulturasi budaya Tionghoa.
Salah satu penggemar mi yamin adalah Endang Fatah dan istrinya Reni Andriasari. Keluarga menjadi pelanggan Restorja (restoran jalan) di kawasan Jalan BKR yang menawarkan kuliner ini sejak 10 tahun lalu.
Akhirnya Endang malah memutuskan terjun ke bisnis kuliner dengan brand Mie Yamien Bandung ketika tinggal di Tangerang Selatan. Usaha kuliner ini buka pada 26 November 2020 dengan Rp50 juta di kawasan Ciater Raya, Mekar Jaya, Serpong, Tangsel.
“Mi yamin buatan kami memiliki racikan sendiri, kering dengan kuah terpisah. Mi yamin ini dilengkapi bakso, pangsit, ceker, babat dan dorokdok (kerupuk kulit).
Awalnya bisnis ini menggunakan cara luring (offline). Kemudian berkembang secara daring (online) melalui Gofood dan Grabfood dengan banyaknya permintaan. Itu sebabnya pandemi Covid-19 tidak terlalu pengaruh pada usaha ini, walau pembeli secara fisik berkurang. Kegiatan promosi pun dilakukan dengan media sosial.
“Harga rata-rata mi yamin kami Rp22 ribu per porsi. Kami juga menyediakan harga khusus untuk masyarakat yg ingin bersedekah, misalnya aktivitas Jumat berkah,” ujar Endang kepada Peluang, Rabu (27/1/21).
Menurut Endang setiap hari rata-rata mi yamin-nya terjual 50 porsi. Sementara kegiatan sedekah mendapat pesanan 50 porsi.
Endang mengaku resepnya adalah mempertahankan rasa dan kualitas mi yang enak dan menyehatkan. Kualitas bahan baku seperti mi dan bahan penunjang harus berkualitas jua.
“Rencana ke depan, kami ingin membuka cabang berikutnya. Bahkan sudah ada permintaan untuk daerah Bekasi, namun masih kami tahan dulu. Hal ini terkait perlunya kesiapan segala sesuatunya, terutama pengadaan karyawan yang mahir mengolah minya,” tutup dia (Van).








