
PeluangNews, Jakarta – Pemerintah terus mendorong penguatan pemenuhan gizi masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan, tetapi juga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi lokal. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar mampu memberdayakan potensi masyarakat di sekitarnya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan pentingnya sinergi antara SPPG dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta masyarakat lokal sebagai pemasok bahan pangan. Menurutnya, keterlibatan pelaku usaha desa menjadi kunci agar program gizi turut mendorong perputaran ekonomi di wilayah setempat.
“Tidak boleh kerja sama dengan pemasok besar dari luar. Harus melibatkan UMKM desa supaya ekonomi di sini tumbuh. Ibu-ibu tanam buah laku, tanam sayur laku, pelihara ayam laku, telur laku, ikan laku,” kata Zulkifli Hasan saat meninjau SPPG Kalikajar 001, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, seperti dilansir laman Antara, Sabtu (10/1).
Zulkifli Hasan menyampaikan pernyataan tersebut usai melihat langsung operasional SPPG yang menjadi bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menekankan bahwa arahan tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto agar SPPG tidak hanya menyalurkan makanan bergizi, tetapi juga menyejahterakan masyarakat sekitar.
Ia mengingatkan, SPPG yang tidak melibatkan warga setempat sebagai pemasok bahan pangan dapat dikenai evaluasi, bahkan berujung pada pencabutan izin operasional.
“Kalau tidak sinergi dan belinya dari Jakarta, itu bisa dievaluasi. Kalau diperingatkan tidak mau, lama-lama bisa dicabut,” katanya.
Selain mendorong dampak ekonomi, Zulkifli Hasan juga menekankan pentingnya pemenuhan standar kesehatan dan keamanan pangan. Ia menyebut SPPG wajib memiliki sertifikat laik higiene sanitasi agar makanan yang disalurkan benar-benar sehat dan aman untuk dikonsumsi.
“SPPG ini harus sehat, higienis, sehingga betul-betul bisa menjadikan anak-anak Indonesia anak-anak yang hebat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi bagi ibu hamil menjadi perhatian utama pemerintah dalam upaya pencegahan tengkes atau stunting. Menurutnya, dampak pemenuhan gizi tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, melainkan dalam jangka panjang.
“Kalau ibu hamil tidak dijaga gizinya, nanti stunting. Dampaknya bukan hari ini, tapi lima sampai sepuluh tahun ke depan. Kalau asupannya bagus, anak-anak kita fisiknya sehat, otaknya cerdas,” kata Zulkifli Hasan.
Sementara itu, salah satu penerima manfaat program MBG, Risnawati, mengaku senang dengan bantuan yang diterimanya. Ia menyebut menu yang dibagikan berupa buah dan roti.
“Senang. Semoga program ini bisa dilanjutkan terus,” katanya.
Program MBG sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya ibu hamil, balita, dan anak-anak, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa melalui pelibatan UMKM dan masyarakat lokal.








