JAKARTA—Generasi 1980-an hingga 1990-an tidak asing lagi dengan es gabus dengan ciri khas warna cerah seperti pelangi. Jajanan ini bentuknya lebih mirip kue karena berbahan tepung hun kwe (dari pati kacang hijau) dengan susu, hingga ada yang menyebutnya es kue. Kalau dikunyah rasanya seperti gabus.
Jajanan ini saat ini langka ditemukan. Choiriyah, warga Kedoya, Jakarta Barat menghadirkan kembali jajanan ini. Selain didorong mencari penghasilan tambahan, dia ingin mengenalkan jajanan masa kecilnya kepada anaknya.
“Saya belajar membuat es gabus ini dari berbagai sumber dari orang tua dan Youtube. Saya kenal es gabus ini dari sejak saya duduk di Sekolah Dasar,” ungkap Choriyah kepada Peluang, Selasa(19/1/21).
Membat es gabus tampaknya mudah, tetapi butuh ketelitian Jika salah takar bisa tidak jadi. Choiriyah mengaku paling banyak sehari bisa mengerjakan dua kali adonan, kecuali ada pesanan untuk ulang tahun.
Dia memulai jualan es gabus ini sejak awal 2020. Sebelumnya Choiriyah juga sudah menjual kue lebaran Rp700-800 ribu.
Saya biasa buka pre order hariannya karna keterbatasan tenaga Saya jual Rp20 ribu per boks tapi untuk yang jauh Saya kenakan biaya ongkir. Sehari itu saya bisa menjual antara 4 hngga 6 boks. Alhamdullah saya jual ke semua kalangan dari anak hingga orang tua,” ujar dia.
Choiriyah mengaku hanya menggunakan WA dan Instagram untuk memasarkan es jadul ini. Ada beberapa saudaranya yang ikut menjadi reseller.
“Ke depannya saya pingin menekuni usaha kue yang biasanya saya jual hanya setahun sekali. Kini saya ikut program Jakpreneur, saya aya bisa menambah ilmu dan mengembangkan usaha,” tutupnya (Van).








