hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Adi Putra, De Mour, Buah Semangat Wirausaha Sejak Kecil

JAKARTA-—Umumnya anak-anak ketika ditanya apa cita-citanya,  mereka menjawab kalau tidak dokter, menjadi insinyur.  Tidak demikian dengan Adi Putra, memang sejak kecil ingin mnejawi wirausaha.

Setamat SMA, Adi melanjutkan kuliah di jurusan ekonomi Fakultas Ekonomi Manajemen Keuangan Universitas Sumateran Utara (USU)dan setelah lulus bekerja di sebuah perusahaan makanan ternak di divisi marketing di daerah Riau. Dia bekerja untuk mengetahui bagaimana memenuhi target penjualan dan tekanan kerja dan memberikannya bekal.

Pada 2006, dia memutuskan untuk mendirikan usaha. Dia belajar dari saudaranya di Jakarta, untuk menggeluti usaha tas.  Semua  proses diikuti, mulai melayani tamu, membeli bahan, sampai cara memasarkan diikuti dg antusias. Pada 2006 dia memulai usaha sendiri dengan nama De Mour.

“Awalnya bermodal beberapa sampel yang dipinjam ke saudara mencoba menawarkan ke banyak kantor dan instansi baik pemerintah maupun swasta. Dari sekian banyak yang ditawarkan sangat sedikit memberikan respon baik karena belum mengenal,” kenang pria kelahiran Payakumbuh ini, yang mengaku sempat kendor.

Beberapa tahun setelah berusaha, dia bertemu satu instansi yang memberikan respon bagus dan memberikan uang mua 50%. Ternyata instansi itu puas dengan kualitasnya dan akhirnya De Mour mendapatkan rekomendasi.

Usahanya berkembang hingga Adi bisa membeli beberapa mesin jahit dan mempunyai karyawan hingga 19 orang, dengan rata-rata produksi 10 ribu buah ras untuk keperluan seminar, promosi, tas sekolah dan sebagainya. Dia mempunyai gerai di Perkampungan Industri Kecil (PIK), Cakung, Jakarta Timur.

Tas yang diproduksi De Mour mulai dari harga Rp5 ribuan sampai ratus ribuan rupiah, tergantung dari bahan yg digunakan. Tapi yang paling banyak diproduksi harga Rp100 ribuan ke bawah karena memang di situ pangsa pasar yang terbesar.

Adi juga mengaku terbantu oleh program Jakpreneur, mulai dari segi manajemen SDM maupun pemasaran bahkan sampai permodalan. Omzetnya pun mengalami peningkatan.

“Kita  didampingi untuk berhasil terutama dengan program promosinya,” ungkap Adi.

Sayangnya, pandemi covid 19 sangat menghancurkan dunia usaha, semua menjadi tidak seperti biasa Order yang biasanya lancar jadi mandek, bahan baku yang biasa lancar juga jadi sulit. Untuk mensiasatinya, Adi melakukan pemangkasan biaya, penghematan, hingga melakukan penjualan secara daring (online).

“Biasanya fokus bikin tas seminar, sekarang lebih banyak ke tas-tas promosi, shopping bag, masker dan laiinya, intinya tetap ke hal yang berhubungan dengan menjahit,” tambahnya.

Ke depan seandainya pandemi usai, De Mour mempunyai target mengembalikan produksi dan pemasaran ke jumlah yang normal. Ekspor juga menjadi impiannya untuk mengembangkan pasar. Namun untuk itu pihaknya meningkatkan kualitas produknya.

“Tanpa kualitas tidak akan pernah sampai,” tutup dia (Van).

pasang iklan di sini
octa vaganza