JAKARTA—–Ekonom Senior dan Mantan Menteri Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim mengatakan, Paper dari Bappenas mengenai alasan pindah ibu kota keliru bahkan sebetulnya lari dari tanggung jawab permasalahan yang ada di Jakarta, maupun di Pulau Jawa.
Bappenas antara lain beralasan bahwa 57% penduduk Indonesia di Jawa dan pertumbuhan ekonomi 5,6% lebih tinggi dibanding daerah lain hingga pembangunan Jawa Sentris, hingga kalau pindah jadi Indonesia sentris.
Alasan lain diungkapkan Pulau Jawa ada krisis air bersih, ancaman megathrust dan tsunami, permukaan air laut naik. Sementara Jakarta rawan banjir, tanah turun, macet, udara polusi hingga kualitas air sungai mengalami kerusakan berat.
“Logika saya kalau rusak harus diperbaiki. Pemerintah seharusnya tidak lari dari tanggung jawab dengan pindah ibukota, melainkan membenahi Jakarta,” ujar Emil Salim dalam diskusi publik yang digelar Indef di Jakarta, Jumat (23/9/19).
Guru Besar Fakultas Ekonomi UI ini menjelaskan, dengan pengembangan sosial dan technical engineering masalah tersebut bisa diatasi. Misalnya dengan seperti pengembang dalam mengembangkan Pantai Indah Kapuk (PIK) hingga tidak banjir. Dengan air laut yang dibendung bisa dibuat jadi air tawar hingga mengatasi masalah air bersih sekaligus banjir.
“Jadi kalau pantai utara Pulau Jawa tenggelam, terus lari dengan memindahkan ibu kota, bagaimana dengan penduduk di pantai utara Jawa? Apakah ditinggal?” tanya Emil.
Alasan dipindahkan ke Kalimantan itu karena letaknya di tengah juga keliru. Karena sentrum itu tidak ditentukan fisik. tetapi non fisik seperti teknologi, kemampuan sarana perhubungan angkutan udara, angkutan laut dan kualitas sumber daya manusia.
Emil mencontohkan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dulu membangun fasilitas teleconference. Jika Presiden punya proyek di Waingapu, Presiden bisa melihat perkembangan proyeknya. Dulu Kuntoro Mangkusubroto punya program.
“Teknologi komunikasi di ujung tangan kita. Seluruh Indonesia. Tidak perlu fisik. Kita di abad 21. Teknologi digital. Teman kita di Bappenas lupa itu,” kata Emil lagi.
Emil menegaskan, perkembangan ekonomi dunia yang saat ini belum stabil harus dipikirkan dengan efektif. Letak Indonesia yang strategis seharusnya bisa lebih fokus memanfaatkan one belt dari RRT dan Pacific Ocean yang diprakarsai AS di Indonesia ada di persimpangannya.
“Jangan juga dilupakan ada persoalan lain seperti bonus demografi di mana penduduk berusia produktif (15-64 tahun) jadi terbesar di Indonesia. Harusnya Indonesia meniru pemerintah Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang mengirim anak mudanya untuk belajar di luar negeri. Dengan demikian pembangunan SDM dilakukan,” papar dia.
Keberhasilan beberapa negara memindahkan ibu kota yang dijadikan kasus juga keliru. Korea Selatan dan Brazil, misalnya negara kontinetal, sementara Indonesia adalah negara kepulauan.
“Lebih baik dana untuk pemindahan ibu kota dialihkan untuk mengembangankan sentra ekonomi baru dan pembangunan SDM yang merata di daerah. Seperti mengirimkan pemuda Papua dan Maluku belajar,” pungkas Emil (van).








