hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Dongkrak Perekonomian, Kopdit Pintu Air Genjot Sektor Produksi

Tujuh dari 8 Spin Off yang dilakukan fokus pada pengembangan usaha sektor riil produktif. Kemenkop dan UKM mendorong agar koperasi besar lain mengikuti jejak langkah dari Kopdit terbesar di Indonesia itu.

Kini GERAKAN koperasi di Indonesia hadir dengan wajah baru setelah KSP melakukan transformasi usaha melalui spin off dengan menggarap sektor riil. KSP Kopdit Pintu Air layak disebut sebagai koperasi pelopor penggerak sektor produktif di Indonesia. Koperasi yang dipimpin Yakobus Jano ini memiliki 8 anak usaha berbentuk Perseroan Terbatas yang 7 diantaranya bergerak pada usaha produktif, mulai dari hasil laut sampai hortikultura.

Yakobus Jano, Ketua Kopdit Pintu Air mengatakan, langkah spin off yang dilakukannya sejalan dengan arahan Pemerintah agar koperasi tidak hanya fokus pada usaha simpan pinjam tetapi juga mengembangkan sektor riil produktif. “Dengan dukungan penuh dari anggota, Kopdit Pintu Air terus memperluas usaha di sektor produktif. Tanpa dukungan dari anggota koperasi yang adalah pemilik lembaga ini kita tidak bisa buat apa-apa. Solidaritas adalah hal yang sangat penting, mari kita jaga solidaritas kita agar lembaga ini bisa hidup 1.000 tahun lagi,” ujar Jano di sela-sela RAT ke-25 Kopdit Pintu Air di Auditorium Sumur Yakob Lantai III Kantor Pusat Kopdit Pintu Air Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, akhir Mei lalu. 

Pengembangan usaha produksi yang dilakukan Kopdit memiliki dampak berganda pada perekonomian. Selain meningkatkan penyerapan tenaga kerja, usaha ini juga memberikan nilai tambah bagi produksi lokal. Sehingga roda ekonomi pun berputar lebih kencang yang berujung pada kesejahteraan anggota dan masyarakat yang meningkat.

Transformasi usaha di sektor produksi juga merupakan langkah ampuh untuk meminimalisir potensi risiko over likuiditas di koperasi. Saat ini, berdasar data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah KSP sebesar 59% dari total koperasi di Indonesia. Banyak KSP yang mengalami kelebihan likuiditas dan membatasi pembayaran iuran keanggotaan. Adanya diversifikasi usaha ke sektor produksi akan membuat usaha koperasi menjadi lebih sehat dibanding hanya fokus pada usaha simpan pinjam.

Salah satu produksi andalan Kopdit Pintu Air yang mendapat respons positif dari masyarakat adalah garam yodium Cap Pintu Air. Garam ini diproduksi oleh anak usaha Kopdit Pintu Air yakni PT. Garam Pintar Asia.

Menurut Manajer PT. Garam Pintar Asia Ignatius Fabianus Nong, biasa disapa Ifan Parera, garam beryodium Cap Pintu Air kemasan 20 gram dijual dengan harga Rp875 dan tersedia di Pintu Air Swalayan yang beralamat di Jl. Diponegoro depan SMA Budi Luhur, Kelurahan Kota Uneng kecamatan Alok Kabupaten Sikka sebagai agen tunggal.

Garam beryodium Cap Pintu Air memiliki keunggulan dibanding garam merek lain. Ini karena produknya berkualitas yang dihasilkan dari proses produksi yang teruji. Sebelum masuk oven, garam kasar yang ada dicuci dan dijemur minimal 10 hari, sebelum masuk ke rumah roduksi. ”Dengan cara pengolahan seperti ini maka garam yang kita produksikan sangat berkualitas dan memenuhi ketentuan SNI,” katanya.

Proses pengolahan di oven untuk mendapatkan kekeringan garam maksimum 7 sesuai SNI, sementara output iodisasi untuk mendapatkan kandungan dalam garam antara 30-80 ppm. Kini kapasitas produksinya sudah mencapai 8 ton perbulan dan yang sudah dipasarkan sebanyak 3,5 ton. Produk garam ini juga mendapatkan penilaian yang bagus dari BPOM dan halal.

Apresiasi Menkop UKM

Gebrakan Kopdit Pintu Air yang mengembangkan usaha sektor produksi mendapatkan pujian dari Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. “Saya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Kopdit Pintu Air yang mengembangkan 7 spin off di sektor-sektor produksi seperti swalayan, minyak goreng, garam, hortikultura, dan sektor produktif lainnya,” kata Teten Masduki ketika menyampaikan sambutan di RAT ke-25 Kopdit Pintu Air.

Dengan mengembangkan usaha sektor produksi, berarti Pintu Air selangkah lebih maju dalam meningkatkan perekonomian daerah. Hal ini pantas ditiru oleh koperasi besar lain di seluruh Indonesia untuk memperkuat prekonomian. Kemenkop dan UKM telah menyiapkan regulasi-regulasi yang dibutuhkan oleh koperasi untuk masuk ke sektor produksi.

Teten menambahkan, saat ini, KSP harus melakukan inovasi dengan mendiversifikasi jenis usaha. Untuk itu, spin-off masuk ke sektor produksi menjadi pilihan. Koperasi produksi dapat memenuhi kebutuhan anggota dengan membeli produk sendiri serta dapat menciptakan lapangan kerja.

Selepas membuka RAT Kopdit Pintu Air yang beraset Rp1,3 triliun, Teten mengunjungi Rumah Produksi Garam di Dusun Likong Gete, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Sikka, NTT. Lagi-lagi Menteri Teten mengungkapkan kekagumannya pada Kopdit Pintu Air. “Proses produksi garam telah memenuhi standar SNI dan di bawah pengawasan BPOM serta dijamin halal ini bisa memenuhi kebutuhan garam di Kabupaten Sikka,” ungkap Teten.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar di luar Kabupaten Sikka, Menkop mendorong agar lahan produksi diperluas. Dengan begitu, kapasitas produksi garam bisa ditingkatkan. Sebab, potensi NTT sebagai penghasil garam beryodium berkualitas sangat besar. Jika dioptimalkan, bukan hal yang mustahil jika Indonesia tidak perlu lagi mengimpor garam.

Lebih lanjut, Teten menyarankan agar Kopdit Pintu Air juga melirik potensi kelautan dan perikanan di NTT. “Lautan NTT kaya, manfaatkan dengan membuat produk unggulan kelautan. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) juga sudah dikelola oleh koperasi dan itu harus terus dimaksimalkan,” kata Teten.

NTT dengan kekayaan lautnya seharusnya bisa menjadi usaha produktif yang memberikan kesejahteraan bagi anggota koperasi dan masyarakat. Oleh karena itu, Menkop mendorong KSP setempat memanfaatkan kekayaan laut untuk mendorong skala bisnis koperasi sekaligus ikut meningkatkan perekonomian daerah.

Salah satu potensi yang layak dikembangkan adalah budi daya rumput laut yang dapat menghasilkan keuntungan lebih besar dengan pemeliharaan tidak terlalu sulit. Bahkan rumput laut memiliki berbagai nilai tambah jika diolah menjadi tepung bahkan dapat diekspor ke luar negeri.

Spin off yang dilakukan Kopdit Pintu Air dapat menjadi inspirasi bagi KSP lain agar peran koperasi dapat lebih “menggigit”. Sehingga koperasi sebagai sokoguru perekonomian bukan hanya sekadar slogan tetapi benar-benar mewujud dalam kenyataan.  (Kur)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate