Dobo jadi ramai pada hari Sabtu hingga larut malam.Itulah saatnyarelaksasi buat para petani sagu dan nelayan.Mereka datang berperahu dari desa untuk bersenang-senang,berpesta hingga larut.
SELAMA berabad-abad Dobo terkenal sebaga penghasil mutiara berkualitas tinggi. Selain itu, Dobo juga memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat besar.
Hasil lautnya antara lain lobster, ikan, rumput laut, teripang. Dobo juga merupakan tempat tinggal bagi hewan langka serta endemik, misalnya kakaktua, cenderawasih, penyu, kasuari, kanguru, dan kuskus. Ironisnya, hewan-hewan tersebut sering dibunuh oleh pemburu liar untuk dijual.
Mutiara itu berada di perairan Dobo, kawasan paling ramai di Kepulauan Aru, kumpulan pulau-pulau kecil di Maluku Tenggara yang dipisahkan oleh sungai-sungai berair asin. Sungai-sungai itu berair asin karena sebenarnya adalah lautan yang memecah Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.
Dobo merupakan ibu kota Kepulauan Aru, sebuah kabupaten di Provinsi Maluku. Kota ini berada di Pulau Warmar, sebuah pulau kecil dan terpisah dari pulau besar di Kabupaten Kepulauan Aru. Luas wilayahnya 6.325 km². Sebuah pelabuhan di sana terakses ke Kota Tual, Banda, Tanimbar, Yamdena bahkan sampai ke Merauke di Papua. Bandar Udara Gwar Gwammar di Dobo saat ini hanya dilayani oleh satu penerbangan, Wings Air, dari Kota Ambon setiap hari pukul 8:00 WIT.
Populasi kota beraroma laut di daerah tenggara Maluku ini tercatat 42.263 jiwa (2020). Suku utama penghuni kota Dobo adalah Suku Aru. Keberadaan mereka di Maluku sering disebut berasal dari Pulau Eno Karang, sebuah pulau di Maluku yang terkenal dengan kewlokan karangnya. Mayoritas masyarakat Kota Dobo pemeluk agama Nasrani (Protestan 58,40% dan Katolik 10,05%). Warga Muslim di kota ini 31,39%.
Pada zaman dahulu kala, masyarakat setempat sudah sangat biasa menyelam dengan peralatan sederhana untuk mendapatkan mutiara. Tapi kini mutiara sudah bisa dengan mudah didapatkan di berbagai tempat budidaya lokal. Jenis dan harga mutiara pun beragam dengan kecantikan yang terpancar dari kilau alaminya. Selain mutiara, Kota Dobo juga terkenal dengan wisata kulinernya yang terbilang khas. Yakni bakso rusa yang tersohor kenikmatannya bersama aroma khas ikan asap yang juga dikenal di seantero Maluku.
Beberapa puluh tahun silam, untuk mendapatkan mutiara di Dobo, orang hanya tinggal menyelam dan mutiara-mutiara sudah kelihatan. Sekarang, kerang-kerang dibudidayakan agar bisa menghasilkan mutiara untuk dijual baik di dalam maupun di luar negeri. Mutiara yang paling banyak dibudidayakan di Dobo adalah dari jenis blitz star. Mutiara ini tumbuh di kulit kerang dengan bentuk bermacam-macam seperti pipih, lonjong, dan bulat.
Selain mutiara budidaya, Kepulauan Aru juga masih menyediakan mutiara-mutiara asli dari dalam laut. Perbedaan mutiara budidaya dan mutiara laut adalah bekas suntik yang terdapat di mutiara budidaya sehingga mutiara budidaya sering juga disebut mutiara suntik. Lubang suntik itu ada karena memang mutiara budidaya disuntik untuk mempercepat pertumbuhan. Untuk mendapatkan mutiara yang mulus tanpa bekas suntikan, tentu harus mencari mutiara yang tumbuh sendiri di dalam laut.
Bicara destinasi wisata, banyak tempat indah di Dobo. Ambil contoh tiga tempat wisata favorit warga setempat dan pengunjung luar. Pantai Liang. Ini satu pantai dengan dua nama. Nama utamanya adalah pantai Hunimua, meski sebutan Pantai Liang jauh lebih populer. Selanjutnya Pantai Papaliseran. Buat masyarakat setempat, pantai mempesona ini lebih akrab dengan sebutan Pantai Belakang Mawar. Ketiga, Pantai Kora. Disebut juga Pantai Wangel. Lokasinya mudah diakses karena terletak tidak jauh dari pusat kota di Desa Wangel, Kecamatan Pulau-pulau Aru, Kabupaten Aru.
DARI kesan sekilas pandang, kota ini terlihat gersang. Tidak berjejalan beton seperti umumnya kota atau rimbun menghijau. Gersang dalam arti bukan ibarat bentangan sahara yang mahaluas dengan permadani pasir beterbangan. Boleh jadi ini konsekuensi dari otonomi daerah. Wilayah kepulauan yang jauh di Maluku Tenggara itu gambling memilih otonomi demi pemerataan dengan hasil yang melenceng.
Walaupun Dobo adalah kota kecil yang bisa dikelilingi dalam waktu hanya satu jam, di sini anda bisa menemukan berbagai fasilitas umum, warung-warung makan, bahkan berbagai pusat hiburan seperti diskotik. Dobo menjadi kota yang ramai pada hari Sabtu hingga larut malam. Itulah saatnya relaksasi buat para petani sagu dan nelayan. Di sini mereka sedikit bersenang-senang dengan berpesta kecil di Kota Dobo. Mereka datang dari desa ke Dobo untuk menikmati sisa dari hasil kerja mereka selama seminggu.
Sepekan sekali, Dobo menjelma jadi kota kecil yang sibuk. Orang orang hilir mudik,berdesak desakan saking kecilnya. Bayangkan kota ini dapat ditari dengan hanya berjalan kaki. Tak perlu naik angkot atau kendaraan lainnya. Kok bisa? Sebab, jelang malam minggu, warga dari desa desa pada melancong ke kota, mengompensasikan kelelahan dan harta hasil nelayan mereka dengan cara berpesta. Aneh memang, sebagai kota kecil yang masih tertatih dan masih kaya oleh mutiara mutiara laut, di dalamnya masih dihuni oleh masyarakat yang konsumtif.
Malam minggu tiba. Sebuah lokalisasi sudah terlegalkan sejak dini. Banyak orang berkunjung dari berbagai desa. Mereka menempuh perjalanan laut dengan perahu kecil untuk ke sana. Malam tiba, uang yang mereka dapat terhambur ke sana ke mari lewat pesta-pesta.
Saat yang lain terlelap, beberapa kafe di Dobo kerlap kerlip, dalam alunan suara musik. Kota ini terlalu cepat menjadi bukan dirinya. Sementara di desa desa, tempat keluarga mereka tidur dan berselimutkan suara suara burung malam, rumah rumah reyot, keadaan rumah yang perlu diperbaiki, dan esoknya anak anak harus menguatkan kakinya berangkat ke sekolah.
Kepulauan Aru sesungguhnya kaya akan hasil bumi. Di sini mutiara melimpah, anak-anak masih harus bisa lebih bersabar dan menggigit jari untuk menikmati manisnya kesempatan bersekolah. Sarana pendidikan, kesehatan, melimpah ruah tanpa sumber daya manusia yang memadai. Ahad pagi, ketika matahari siang membangunkan orang-orang yang terlelap di pesta tadi malam, mereka cuma menguap karena masih digelayuti kantuk. Pulang ke desa masing-masing dengan rasa plong tak nyaman. Pulang untuk kembali melakoni kisah serupa pada hari Sabtu depan.●(Zian)