hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Digoel, Kesaksian Buram Sepanjang Zaman

Nama Boven Digoel identik dengan tempat isolasi masa lalu. Lokasi aman buat para ‘pembangkang’ versi kolonial. Nun di ujung timur Nusantara. Di perbatasan, pusaran belantara Papua. Infrastruktur? No way.

Mesin truk menggeram. Asap knalpot membubung mengiringi putaran roda yang tak kunjung mampu mengeluarkan kendaraan dari kubangan lumpur di Simpang Prabu, sekitar 150 kilometer sebelum Boven Digoel dari arah Merauke, Papua. Satu truk terperosok, belasan kendaraan lainnya pun tak pelak mengantre di belakangnya.

Semakin lama, antrean kendaraan yang terjebak lumpur makin panjang. Para sopir dibantu beberapa warga pun bahu-membahu menarik truk itu keluar dari kubangan.

Satu kendaraan terbebas, kendaraan di belakangnya menunggu giliran pembebasan, sebelum dapat meneruskan perjalanan. Kondisi lazim terjadi di ruas Merauke-Boven Digoel sehabis hujan mengguyur, terutama di ruas jalan tanah sekitar proyek pengerjaan jembatan.

Waktu, tenaga, dan uang terbuang karena buruknya kondisi jalan. Hanya kendaraan-kendaraan gardan ganda dengan ban radial yang dapat melayani transportasi warga dari Merauke-Boven Digoel. Tarifnya Rp700.000-an, untuk jarak sekitar 140 kilometer.

Pesawat bisa jadi alternatif. Namun, tarifnya Rp1 jutaan (tarif sebelum kenaikan gila-gilaan awal tahun ini) untuk satu jam terbang. Itu pun jika cuaca kondusif untuk mengudara di rute tersebut.

Merauke-Boven Digoel dulu ditempuh dalam bilangan minggu. K ini hanya butuh waktu delapan jam berkat rampungnya jalan Merauke-Boven Digoel, 424 km. 

Hingga akhir 2017, pembangunan jalan perbatasan Indonesia-Papua Nugini dengan panjang total 1.098 km tercatat sudah mencapai 891 km. Bupati Boven Digoel, Benediktus Tambonop, mengatakan secara bertahap kondisi jalan Merauke-Boven Digoel semakin baik.

Tanah Merah atau Tanamerah itu statusnya sebuah kota. Ibu kota Kabupaten Boven Digoel di Provinsi Papua. Tapi soal popularitas, nama Boven Digoel lebih unggul. Bahkan anak-anak SD-SMP pun tahu itulah tempat terpencil di tengah belantara Papua. Tempat pengasingan. Meski tidak pernah diduduki Jepang selama PD II, nama Tanamerah nyaris tak tak terdengar.

Bovel Digoel lebih ngetop. Digoul dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai kamp (alami) untuk pentolan komunis tak terpelajar yang berontak pada 12 November 1926. Lokasinya: hulu Sungai Digoel, di bagian selatan Papua, 410 km utara Merauke. Dulu termasuk onderafdeeling Niew Guinea Selatan, Karesidenan Ambon.

Ada tiga cara untuk mencapai Digoel dari Merauke. Pertama, dengan pesawat, yang penerbangannya agak jarang dari Merauke.

Cara tercepat ini jelas mahal. Kedua, menumpang kapal sekira seminggu, jika air tidak surut. Ketiga, lewat perjalanan darat dengan hiline. Jika sedang kemarau, butuh waktu sekitar 11 jam dari Merauke. Saat musim hujan, bisa berhari-hari karena jalanan becek. Sebagian jalan Merauke-Digoel masih berupa tanah.

Sebelum dijadikan kamp, Boven Digoel asliinya memang hutan belantara. Setelah Tanah Merah dibangun, pemerintah kolonial membuat tempat isolasi lagi seperti Gudang Arang yang kemudian dipindah ke Tanah Tinggi. Pada dekade 1920-an dan 1930-an, kondisinya mengerikan karena banyaknya binatang buas.

Tanah Tinggi jauh lebih sepi ketimbang Tanah Merah. Waktu tempuhnya satu jam dengan boat yang menyusuri Sungai Digoel. Kamp tambahan ini menampung orang-orang paling keras kepala di antara orang-orang buangan. Marco Kartodikromo, Aliarcham, Budisutjitro, Thomas Najoan pernah ditempatkan di sana.

Setelah 1927, penghuni Digoel tetiba ramai. Jumlah orang buangan (interneer) mencapai 1.200-an. Sebagian mereka bertani, meski tanahnya tak subur. Sekolah juga ada di sana, untuk anak-anak orang buangan, selain lapangan bola, toko, bahkan masjid, yang dibangun oleh tawanan asal Banten dan Sumatera Barat.

Di Boven Digoel, orang buangan tak disiksa dan tanpa kerja paksa. Mereka hanya perlu membangun rumah sendiri untuk ditempati. Mereka bebas bepergian dalam radius 30 km dari kamp.

Tidak ada pagar kawat berduri. Orang bebas mau pergi ke Kampung A, B, C, D. Mau mancing sepuasnya di Sungai Digoel juga tidak dilarang. Tapi mereka disiksa oleh ganasnya malaria dan kesepian. Jika menghilang, mereka akan dikejar polisi dan serdadu KNIL.

Tak mudah kabur dari kamp Digoel, sebab sekelilingnya belantara perawan. Di sungai dan rawa-rawa juga banyak buaya. Hampir semua usaha pelarian tidak ada yang sukses.

Jika tidak tertangkap oleh serdadu, mereka umumnya hilang. Digoel adalah tempat yang cocok untuk pembuangan. Apapun ideologinya, entah komunis, Islam atau nasionalisme, orang-orang yang dibuang di sana adalah para pembangkang pemerintah kolonial Belanda.

Hanya Bung Hatta dan Bung Kecil alias Sutan Syahrir yang pernah diisolasi di sana. Keduanya termasuk orang yang bisa melawan rasa sepi di Digoel. Cara untuk waras yang agak aneh adalah merencanakan pelarian. Rencana itulah yang membuat mereka berpikir melawan kejenuhan dan kesepian yang menggigit.

Sebagai sebuah kabupaten administratif, Boven Digoel baru dibentuk dengan U RI No. 26/2002, sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Merauke, bersamaan dengan sejumlah kabupaten lain di bagian selatan, yakni Kabupaten Asmat dan Kabupaten Mappi. Luas wilayah kawasan itu hampir 10.000 hektare. Terkenal sangat terasing dari dunia luar. Bahkan nyaris terasing dari peradaban masyarakat.

Di masa lalu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda memiliki senjata andal dalam membatasi ruang gerak kaum pergerakan nasional. Dia berhak membuang dan memenjarakan seseorang yang dinilai membahayakan keamanan dan ketertiban tanpa melalui pengadilan  Selama pemerintah Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge, banyak tokoh nasionalis Indonesia dijerat dengan prosedur sewenang-wenang seperti itu.●(dd)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate